Bagaimana perasaan anda jika menemukan dompet jatuh? Cuek, pura-pura tidak tahu? Atau, senang karena menemukan dompet yang mungkin banyak uangnya? Mengambilnya dan memberikan ke kantor polisi terdekat? Dan mungkin masih ada perasaan lain yang terlintas di kepala anda.
Hari ini kami berempat, istri dan kedua anakku pergi ke taiikukan untuk ikut pertandingan badminton. Istri dan anak berangkat duluan, aku menyusul di belakangnya dengan berlari kecil kira-kira 20 meter di belakangnya. Tapi, istriku tiba-tiba berbalik arah seolah menyambutku. Ada apa gerangan? “Mas, ada dompet jatuh!”, teriak istri. Aku setengah berteriak, biarkan daripada bermasalah. Dan ini adalah kebiasaan kami jika mendapatkan barang jatuh. Kami tidak berani mengambilnya: takut. Entahlah kenapa saya takut, takut sekali. Bahkan kalau saya menemukan barang di jalan saya menganggapnya sebagai musibah, nasib buruk. Musibah karena perasaan takut ini selalu menghantui.
Kami orang asing yang hidup di Jepang. Tujuannya hanya satu, study dan setelah itu kembali ke tanah air. Saya tidak ingin bermasalah dengan undang-undang Jepang selama study. Ingat cerita di milis sesama orang Indonesia yang dituduh mencuri di supermarket. Atau mencuri sepeda. Dan dituduh mencuri sepeda ini betul-betul aku alami sendiri beberapa kali. Sampai sampai aku menganggap polisi Jepang itu resek. Apapun yang kita kerjakan selalu di-shuudoni. Yah, bagaimanapun kita orang asing, selalu dicurigai lebih dulu dari pada mereka sesama orang Jepang.
Kenapa orang Jepang selalu curiga terhadap orang asing. Memang banyak sekali kejadian pencurian yang dilakukan oleh orang asing. Sebelum banyak orang asing di Jepang, konon negara ini aman. Setelah pemerintah Jepang memutuskan untuk mendatangkan pelajar asing sebanyak-banyaknya, dan ditambah lagi karena keterpaksaan mendatangkan “tenaga kerja asing” karena kekurangan tenaga kerja, maka di Jepang di mana-mana kita temukan orang asing.
Masih ingat cerita teman lab tadi malam ketika nomikai. Dia mengatakan bahwa ada kampung di Jepang yang karena amannya tidak ada orang mengunci rumah: tidak ada pencuri. Ada lagi di lain tempat pernah ditayangkan di TV Jepang, bahwa ada warung sehari-hari yang tidak pernah ditunggui. Kalau orang mau beli barang yang ada di situ, naruh saja uang sejumlah harga yang tertera dan mengambil barangnya. Betapa keadaan seperti itu akan sangat membuat kita nyaman. Tidak ada pencuri, dan semua orang di situ berlaku jujur. Suasana ideal yang diharapkan terjadi di negara-negara beragama malah terjadi di salah satu kampung negara yang tidak “mempercayai” agama.
Kembali ke masalah dompet tadi. Sebenarnya istri dan anak sudah membiarkannya, tapi ndak tahu kenapa kali ini istriku kembali dan menunjuk ke arah dompet itu. “Biarkan, jangan disentuh atau mengambilnya!”, teriakku sekali lagi. Dalam hati kecilku sebenarnya mau mengambilnya dan menyerahkannya ke kantor polisi. Tapi di sekitar sini tidak ada kantor polisi. Tambahan lagi bagaimana jika malah kita dituduh yang bukan-bukan. Mengambil uangnya misalnya, dan hanya mengembalikan dompetnya saja. Duh, betapa malangnya jika dituduh demikian. Sebenarnya di pojok hati yang lain ambil saja, jika dituduh hal yang bukan-bukan minta tolong kepada kenalan yang juga seorang polisi. Atau, hal terjelek kita terima saja tuduhan itu, yang penting kita sudah berlaku jujur. Toh, yang menilai kejujuran hati kita sejati hanya yang mbau rekso urip.
“Mas, kalau ada dompet jatuh, harus kita selamatkan!”, aku tersentak dengan ucapan istriku. “Ibu tidak sedang ingin menjadi pahlawan, kan. Tidak sedang ingin sok menyelamatkan dompet itu, kan”, protesku dalam hati. Dia bercerita bahwa temannya seorang Jepang mengatakan begitu kepadanya. “Hontoo (sungguh)?”, aku masih tidak percaya. Ketakutanku lebih mendominasi, daripada bertindak sok seperti itu. “Kita lihat saja, takutnya ada barang penting. Kalau tidak ya kita taruh saja di tempat semula, atau di atas tembok yang mudah terlihat. Mungkin si pemiliknya kembali untuk mencarinya”, jelas istriku. Aku seolah mendapat kekuatan untuk menyetujui istri mengambil dompet itu dan membukanya.
Akhirnya, dompet itu kita buka bersama dengan kedua anakku pula. Betul, di sana ada uangnya. Sejujurnya aku tidak ingin tahu atau melihat uang itu, apalagi jumlahnya: musibah! Ada juga berbagai kartu, mulai kartu bank, kartu mahasiswa, kartu anggota klub tertentu, dan kartu-kartu lainnya, yang aku tidak ingin mengetahui lebih jauh jenisnya. Kebetulan di tempat yang mudah ditangkap mata ada kartu nama dan ada nomor HP-nya. Segera saya hubungi HP itu. Ternyata dia bukan pemiliknya. Istri menunjukkan kartu mahasiswa dan mengejanya, saya tirukan untuk memberitahu orang diseberang telepon. “Oh, dia sempai (senior) saya”, jawabnya. Saya bertanya, bagaimana saya menghubunginya, karena memang di situ tidak ada nomor teleponnya. Ah, mungkin ada kalau aku mau mencarinya di sela-sela lain di dompet itu. Pasti ada karena banyak sekali kartu-kartu di situ. Tapi, aku ndak mau menelusuri barang-barang yang ada di dompet itu. “OK, kalau begitu saya akan menghubungi senior saya itu untuk menelepon anda ya.” terdengar suara di ujung HP sana. Tentu saja segera aku iyakan.
Sementara aku lega dan melanjutkan langkah kaki menuju ke lapangan badminton. Terlintas berbagai perasaan jika ini dan jika itu bagaimana? Embuh, kalau ada apa-apa saya akan telepon ke teman polisi dan menceritakan apa adanya. Saya yakin dia akan lebih mempercayai aku karena kita berteman sudah lama sekali. Atau, kalau tidak ya diterima saja tuduhan itu, namanya juga musibah. Dan, memang itu kan selama ini jalan pikiranku.
Selesai badminton, aku buka HP. Dan, benar. Ada telepon masuk 8 kali dari nomor HP yang sama. Mungkin dia si pemilik dompet. Aku telepon ke nomor tersebut berkali-kali pula, tidak ada jawaban. Semakin menjadi-jadi perasaan ini. Aku berunding dengan istri dan seorang teman lagi, enaknya bagaimana. Terlintas di benakku untuk menyerahkan ke pos security kampus. Dan, itu keputusan akhir. Di pos security aku mengisi lembaran barang temuan (ketinggalan), dan menjelaskan tentang hal yang sudah saya lakukan seperti menelepon nomor yang tertera di sebuah kartu nama di dompet itu. Seperti yang aku duga, security itu menanyakan juga ada atau tidaknya uang di dompet itu. Aku menjawabnya, “Kelihatannya ada, tapi saya tidak ingin mengetahui berapa jumlahnya.” Security itu mengangguk-angguk dan menanyakan bagaimana tentang 10% uang yang ada di dompet itu. Aku tidak begitu mengerti dengan penjelasan ini. Akhirnya, dia menjelaskan bahwa biasanya jika ada uangnya akan diberikan 10%nya kepada si penemunya. Itu yang aku tangkap dari penjelasan itu, mungkin salah. Segera aku jawab bahwa saya sama sekali tidak berharap dengan 10% uang yang ada di dompet itu. Dan aku jelaskan juga dengan mantab bahwa jika ada apa-apa (dalam hatiku termasuk jika ada tuduhan itu) silakan telepon ke nomor telepon saya. Aku pulang.
Rasanya tidak adil juga sikapku ke orang Jepang. Aku sudah shuudon ke pemilik dompet itu akan menuduh aku yang bukan-bukan. Huh, ketakutan yang berlebihan. Mungkin itu hukum alam kali: kita sering dishuudoni akibatnya kita juga shuudon ke mereka orang Jepang. Tapi, bukankah aku dan keluargaku dikelilingi oleh orang-orang Jepang yang baik-baik. Jadi, untuk apa aku “ngreken” cerita di luar sana yang tidak terjadi pada keluargaku. Cukuplah cerita menyedihkan di luar sana sebagai peringatan untuk selalu berhati-hati saja.
“Kringggggg, kringgggggg, kringggggg”, HP-ku berdering. “Watashi wa (saya) bla….bla….bla….. dan bla…..blaa…..blaaa……, terimakasih atas pengembalian dompet saya”, nerocos suara perkenalan, ucapan maaf karena tidak mengangkat telpon dari aku, serta ucapan terimakasih berkali-kali dari ujung HP di sana. “Terimakasih kembali. Saya tidak apa-apa”, jawabku singkat. Ternyata dia juga sedang pertandingan juga, tapi pertandingan tenis. Oleh karena itu tidak bisa mengangkat telpon dari saya. Loh, jangan-jangan dia adalah salah satu orang dari sekian banyak orang yang bermain tenis di lapangan tenis dekat taiikukan tadi. Hari ini memang udara cerah dan sedikit hangat, jadi banyak yang mengadakan pertandingan. Termasuk kami orang-orang PPI di Nagoya, orang Indonesia di Nagoya, perawat Indonesia, temannya teman orang Jepang, Amerika, dan lain-lain.
Aku pandangi MAYONES di samping komputer. Tidak bisa tidur saudara….. mungkin terlalu capek main badminton siang tadi. Hari ini aku menang badminton, hadiahnya yaaaa mayones itu. Kebetulan si Kennes, anakku yang kecil suka sekali karaage yang “didulitkan” di mayones. Kloplah. Sekali lagi ku lirik mayones sambil berharap semoga tidak dipertemukan dengan barang jatuh lagi.
April 2010
Roni
Filed under: Onok-onok wae Ditandai: | roni panjer