Kiyomizudera

Hari ini baru saja main ke kota tua di Jepang: Kyoto. Seperti halnya Yogyakarta di Indonesia, kota ini memang eksotik. Sudah sedikitnya lima kali ke Kyota, dan itu tidak membuatku bosan. Kali ini pergi ketika liburan golden week di Jepang. Untuk menghindari macet keluargaku dan keluarga seorang teman Jepang berangkat pagi-pagi, jam lima pagi. Si Kennes masih ngantuk ketika berangkat, dan benar saja begitu naik mobil anak-anak langsung tidur: Si Fira, Toshikun, dan Reinachan, termasuk Soessan. Aku harus tetap terbangun untuk menemani Kamiyasan yang nyopir, dengan ngobrol ke sana kemari.

Sampai di Kyoto masih pagi sekitar jam tujuh, tapi parkir mobil pemerintah terdekat dengan Kiyomizudera sudah penuh. Terpaksa kita pakai parkir umum, yah apa boleh buat, walaupun sedikit lebih mahal tapi irit tenaga.

Kiyomizudera. Saya mengunjungi kuil ini sudah yang ketiga kalinya, dan tetap tidak membuatku bosan. Kuil ini dibangun dilereng bukit dengan tiang penyangga puluhan bahkan mungkin mungkin ratusan kayu sebesar pohon kelapa.

DSC_0101blok1

DSC_0023blok2

Foto Kiyomizudera dari beberapa sudut sebagai berikut.

DSC_0094blok4

DSC_0109blok5

IMG_0841blok6

Dan yang juga terkenal di kuil kiyomizudera adalah pancuran di bawah ini. Cukup lama antriannya untuk berjuang hanya sekedar mendekat dan dapat menyentuh air pancuran itu. Aku dan kedua anakku kusempatkan juga sekedar cuci tangan dan incip airnya. Gayung ungtuk mengambil air jumlahnya banyak, dan sekali digunakan langsung dimasukkan lagi ke kotak ultra violet untuk menjaga kesterilannya.

DSC_0026blok8

IMG_0854blok7

Setelah cukup lama di kuil Kiyomizudera, perjalanan dilanjutkan ke Tokyo Studio Park. Di tempat ini di setting sedemikian rupa layaknya rumah perkotaan jaman dulu di Jepang. Rumah-rumah papan dari kayu diatur sangat rapi. Sesuai dengan namanya Kyoto Studio Park pada awalnya (dan sampai sekarang) dipergunakan untuk lokasi shooting film-film samurai, termasuk seri drama kesukaanku Mito Komon.

blok1DSC_0163

Ada juga ledok yang di daerahku Tulungagung sana dinamakan dengan “cikar goglag”. Kennes, Fira, dan Toshi main-main dengan cikar goglag ini.

Blok2DSC_0199

Ketemu juga dengan “Oshin” dan “Takeshi”. Tentu saja waktu tidak kita sia-siakan, minta foto bareng.

blok3IMG_0860

blok4IMG_0862

Setelah foto-foto, eeeee Kennes ingin belajar memanah…….

blok5IMG_0865

Di tengah-tengah memanah, ada cewek Jepang pakai kimono bagus sekali, kayaknya mau shooting. Langsung minta ijin untuk foto bareng he he he.

blok6IMG_0867

Di atas jembatan buatan. Memang bagus sekali untuk shooting. Seperti terasa ikut main film he he he.

blok7IMG_0871

Kita sempat juga nonton tetare tradisional semacam ketoprak atau ludruk di Indonesia. Sebelumnya ada sedikit permainan game tradisional Jepang. Ikut foto bareng dengan si pemain game.

bloka1IMG_0888

bloka3DSC_0228

Alat ini biasanya kalau di film-film samurai untuk menggotong bangsawan. Kadang juga menyewakan diri untuk nggotong orang …. ya semacam becak di Indonesialah. Fira dan Kennes juga ingin merasakannya.

blok9IMG_0878

Fira dan Kennes rebutan foto sama ninja.

bloka2IMG_0890

Sebelum keluar dari Kyoto Studio Park kita sempatkan juga foto bareng sebelum pulang. Ada Pak Kamiya, tapi si Toshikun ndak mau ikut foto.

blok8IMG_0873

Dan terakhir tujuan kita adalah museum di Kyoto.

bloka4DSC_0263

bloka5DSC_0267

bloka6DSC_0273

bloka7DSC_0272

bloka8DSC_0290

Setelah capek di sini kita pulang, jangan sampai pulangnya kesorean, karena pasti macet, maklum liburan golden week. Kelihatan ditulisan kan, kalau macet….

blokb1DSC_0304

Pulangnya, saya sempatkan memotret trowongan. Di Jepang ini banyak sekali jalan-jalan yang seperti menembus bukit-bukit, yah…….. banyak sekali trowongan dibangun demi tujuan kepraktisan dan biar jalan tidak terlalu berkelak kelok.

bloka9DSC_0306

blokb2DSC_0310

Setelah masuk keluar trowongan, akhirnya sampailah kita di Nagoya tercinta. Tsukareta kedo tanoshikatta. Terimakasih Kamiyasan, Toshikun, dan Reinachan…………

Tinggalkan Balasan