Homeless

“Haradasan, kenapa di tengah kemakmuran Jepang ini masih terdapat para homeless, orang yang tidak punya tempat tinggal?” tanyaku pada teman yang sedang asyik melahap saradanya.

Baru saja kita melewati bawah jalan layang dan bertemu dengan seorang homeless yang masih gagah dan menurutku tidak jelek. Tak urung dia meletakkan sumpitnya dan geleng-geleng kepala tanda dia harus berpikir untuk menjawab pertanyaanku. Selama empat tahun aku berada di Jepang aku merasa bahwa negeri ini makmur. Makmur dalam arti melimpah makanan dan melimpah pekerjaan. Kalau ada pemuda Jepang yang kelaparan itu sih kebangeten. Kalau ada pengangguran yang luntang-lantung itu sih keterlaluan.

“Bukankah banyak sekali baito di sekitar sini, kenapa mereka tidak baito saja? atau, kawin saja, toh dia masih gagah dan ganteng” aku menambahkan pertanyaanku.

Aku tahu, temanku itu tidak menjawab karena terlalu jauh berpikirnya. Mungkin dalam pikirannya melayang kepada krisis Jepang sebagai akibat dari krisis keuangan yang terjadi di Amerika.

“Bahkan di restoran tempat kita makan ini sedang membuka lowongan baito.” aku membuka pikirannya agar tidak terlalu jauh melayang.

“Iya, ya.” jawabnya singkat. “

Di toko-toko kita lewat tadi juga banyak lowongan” tambahnya lagi.

Saya tahu, masalahnya pasti tidak semudah seperti yang ada dalam bayanganku tadi. Pikiranku melayang lagi. Di negara ini, mahasiswa tingkat empat universitas sudah disibukkan dengan shukatsu, semacam training kerja. Tidak hanya satu tempat, bisa beberapa tempat. Kebanyakan dari mereka –mungkin malah mendekati 100%, sebelum lulus dapat hampir dipastikan bahwa mereka sudah mendapat kerja. Jadi, jarang ada pengangguran. Kalaupun ada paling itu sebuah kesengajaan. Kalaupun tidak mendapat pekerjaan kan bisa baito. Ah, mungkin itu hanya pikiranku saja yang mencari gampangnya. Tapi lihat, di negaraku dapat dihitung dengan jari mahasiswa yang begitu lulus langsung mendapat kerja. Mau shukatsu? Shukatsu di mana? Bahkan ketika mahasiswapun mereka dapat memilih baito sesuai yang diinginkan. Tapi di negaraku, jarang ada mahasiswa yang baito. Bukannya males atau tidak mau, tidak ada apa yang mau dibaitoi.

dsc01002blog Fira bersama Kennes, Dafa, dan Ian

“Ronisan, mereka itu pemalas” jawabnya membuyarkan lamunanku. “Belum lagi mereka yang mendapat bantuan dari pemerintah sebesar 150 ribu yen, tambah malas lagi”.

“150 ribu yen? Itu kurang lebih setara dengan 18 juta rupiah” aku terheran-heran.

“Iya, tapi mereka yang mendapat tunjangan dari pemerintah itu ada syaratnya. diantaranya kehilangan hak dalam pemilu.”

“Wah kalau mendapat tunjangan sejumlah itu, kehilangan hak dalam pemilupun aku mau…..” jawabku berkelakar.

“Di negara ini fakir miskin betul-betul dilindungi oleh negara” gumanku dalam hati. Aku berandai-andai jika negaraku sudah seperti Jepang ini betapa makmurnya bangsaku.

“Tapi, niat baik pemerintah sering disalahgunakan. Ada di antara mereka para homeless itu yang kaya-kaya, bahkan punya mobil” jelasnya. “Homeless ini hanya sebagai kedok saja, sebagai profesi. Agar mendapat tunjangan terus.”

Wah, ternyata kebijakan pemerintahpun di sini juga ada yang menyalahgunakan ha ha ha. Aku masih membayangkan, seandainya di Indonesia kebijakan dilaksanakan seperti di Jepang: fakir miskin, orang tua, dan anak-anak terlantar dilindungi oleh negara seperti diamanatkan oleh UU betapa makmurnya rakyat dari negara yang namanya Indonesia.

Nagoya, 31 Januari 2009

Roni

Satu Tanggapan

  1. Tulisan bagus senpai. Memang status homeless bisa dimanfaatkan oleh oknum pemalas tertentu di Jepang.

    Masalahnya kalau diterapkan di Indonesia yang budaya malunya parah, bisa2 nggak ada yang kerja. Justru kata oknum bakalan disandang orang yang “sok rajin” :mrgreen:

    Saya link alamatnya di blog saya dibawah ini yah:
    http://melayu-nyasar.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan