Sampah dan SKS

Beginilah salah satu cara Jepang mendidik mahasiswanya. Memungut sampahpun mendapatkan SKS.
Seperti kita ketahui Jepang adalah bangsa yang cukup memberikan perhatian pada permasalahan sampah. Sehingga kalau kita tengok kota-kota di Jepang keadaannya cukup bersih. Masyarakat ikut ambil bagian secara aktif dalam menggalakkan kebersihan ini. Di mulai dari sampah keluarga, sudah dipilah-pilah sedemikian rupa, mana sampah bakar (yang dapat dibakar), mana sampah yang tidak bisa dibakar, mana sampah besar (memang ukurannya besar seperti bed, almari, dll), mana sampah elektronik dsb. Membuangnya pun sudah ditentukan harinya. Bahkan untuk sampah besar dan elektronik dikenakan biaya untuk membuangnya.
Yang penting adalah bahwa mulai kecil anak-anak Jepang sudah dikenalkan (bahkan secara ketat) untuk memilah-milah sampah itu mulai di dalam keluarganya masing-masing. Bahkan untuk tujuan mendidik, baru-baru ini di salah satu televisi ditayangkan sebuah kelas perkuliahan mata kuliah ekonomi di salah satu universitas swasta di Nagoya yang mewajibkan mahasiswanya untuk memungut sampah di sekitar kampus. Dan “hebat”nya kegiatan ini dihargai dengan ganjaran SKS. Artinya, kegiatan memungut sampah itu termasuk dalam mata kuliah ekonomi. Di televisi itu ditayangkan setelah perkuliahan di kelas selama kurang lebih 20 menit, selebihnya waktu yang tersisa digunakan secara bersama-sama memunguti sampah yang tempatnya sudah ditentukan, tentunya di sekitar kampus.
Weleh-weleh…… gotong royong membersihkan sampah mendapat SKS. Bisa dibayangkan kalau ini terjadi di Indonesia. Mana mungkin?

Nagoya, 13 Mei 2008

Tinggalkan Balasan