“Nomikai” adalah masa-masa sulit

Jangan dibayangkan masa sulit itu sebagai masa ketika tidak punya uang, atau masa ketika  menghadapi ujian, atau masa ketika  putus dengan pacar. Masa sulit di sini hanyalah masa ketika saya berada pada tempat yang salah, masa ketika aku berada di tengah-tengah teman yang semuanya sedang minum bir dan mabuk atau sering disebut “nomikai”. Teman-teman muslim sesama “kampung” yang sedang berada di Jepang pasti pernah merasakan suasana seperti ini. Disana sering muncul pertanyaan kenapa tidak minum bir? kenapa tidak boleh minum bir, dan pertanyaan sejenis lainnya, yang seolah-olah mengintrogasi kita. Kasus ini sama persis ketika kita makan bersama: kenapa tidak makan daging babi? kenapa tidak boleh makan daging babi? dan sebagainya.

P1010328aPada kondisi seperti ini kita sulit untuk menjelaskan. Tetapi mau tidak mau kita harus berhadapan dengan kondisi ini jika ingin hubungan kita tetap baik dengan teman-teman Jepang bahkan dengan sensei. Mungkin ada pembaca yang sudah punya strategi untuk menjawabnya. Di sini saya mencoba menuliskan strategi yang selalu saya gunakan ketika menghadapi kondisi tersebut.
Di mata orang Jepang secara umum, Islam itu sama dengan agama-agama yang lain. Jadi menurut saya menjelaskan tentang agama harus sejajar dengan penjelasan pada agama lain. Runtutan logikanya juga harus sama. Yang paling awal (ketika datang di Jepang) tunjukkan bahwa kita moslem. Teman-teman Jepang, setidaknya sekitar dunia kampus, sedikit banyak ada yang tahu ketika berhadapan dengan seorang moslem. Beberapa kali juga saya diajak makan dan minum oleh keluarga yang sama sekali tidak tahu tentang dunia muslim. Di situ saya mau tidak mau harus menjelaskan kenapa tidak boleh makan babi atau minum bir (sake). Saya katakan dengan sederhana bahwa di kitab suci agama saya melarang dua hal itu. Tapi sering terjadi pula kita dikejar oleh pertanyaan: Si A yang dari Indonesia itu juga muslim tapi kok minum sake? Pada pertanyaan ini yang saya rasakan seolah-olah mematahkan jawaban saya tadi, atau bahkan lebih cenderung menyalahkan jawaban saya tadi, atau lebih lanjut menyalahkan kitab suci yang kita yakini. Di sini prinsip keumuman bahwa Islam sama dengan agama-agama yang lain bisa menjelaskan lebih lanjut. Kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa orang Indonesia yang minum sake tadi adalah totol, bersalah, berdosa, akan masuk neraka, dan lain-lain atau kata-kata yang sejajar dengan itu. Kata-kata seperti itu kalau kita ungkapkan sama dengan “mengatai” teman-teman lain yang sedang minum sake dalam forum itu. Dalam hal ini kita harus hati-hati. Dalam forum inipun kita harus menghindari sikap bahwa agama yang kita anut adalah yang paling benar. Sikap ini hanya akan membuat kita mati konyol. Forum tidak memungkinkan kita untuk meyakinkan hal itu. Cara yang menurut saya paling bisa diterima adalah menjelaskan bahwa agama Islam itu sama dengan agama yang lain. Yang namanya agama selalu menuntut umatnya untuk melakukan aturan yang ada di kitabnya secara 100% bukan. Bisa juga ditambahkan bagaimanapun agama itu soal yang amat pribadi. Artinya, apakah seseorang itu mematuhi aturan yang ada dalam agamanya hanyalah persoalan individu yang bersangkutan. Ada si B yang hanya mematuhi 50% ada si C yang mematuhi 80% dari ajaran agamanya, dan seterusnya. Jadi, disini kita mengarahkan pemikiran teman-teman Jepang dalam forum “minum” itu untuk tidak menyalahkan kitab suci kita. Melainkan lebih menyalahkan pada si A yang tidak mematuhi aturan dalam agamanya. Dan dibalik itu, secara tersirat kita juga tidak menyalahkan teman-teman Jepang yang sedang menikmati forum “kenikmatan” itu. Dengan begitu kita dapat meyakinkan pada mereka bahwa keberadaan kita pada forum tersebut yang tidak mau minum sake hanyalah usaha untuk mematuhi ajaran yang ada dalam agama kita sendiri. Pemikiran mereka bisa diperkuat dengan mengatakan bahwa tindakan kita yang tidak minum bir atau makan babi itu sama dengan umat hindu yang tidak makan daging sapi, atau orang Jepang yang tidak makan daging burung dara.
Kalau kita berhadapan dengan orang Jepang yang sudah tahu tentang Islam, kita bisa memperkuat dengan analogi bahwa kalau ada orang Jepang yang menyuruh kita untuk minum atau makan daging babi, itu sama dengan menyuruh kita untuk mencuri. Kebetulan mencuri itu tindakan yang dilarang secara universal jadi bisa mereka terima.
Ketika kita sudah masuk di forum “minum” tersebut sering juga kita ditodong untuk minum sake dengan cara akan menuangkan dalam gelas kita. Pada saat itu katakan dengan jelas bahwa saya minta maaf karena tidak minum sake “sumimasen, biiru o nomimasenga”, atau kalimat yang sejenis dengan itu. Kalau dipaksa katakan sekali lagi dengan minta maaf “sumimasen”, kalau perlu beberapa kali. Dengan begitu biasanya dia akan mengurungkan niatnya. Bukankah ada ungkapan Jawa yang mengatakan “orang itu kalau dipangku akan diam”. Sama dengan proses ini, ketika meminta maaf seolah-olah kita memosisikan diri kita pada pihak yang bersalah dan sebaliknya dia pada pihak yang benar. Dengan tindakan ini berarti kita juga menggunakan proses memangku lawan bicara kita. Tindakan ini bisa diperkuat dengan sebaliknya kita menerima botol bir tersebut dan menuangkannya di gelas dia.  Saya tidak menganggap bahwa tindakan saya ini benar. Tapi tindakan ini saya lakukan dengan meniru cara teman-teman Jepang ketika menolak diberi minum dan hasilnya mujarab he he he.

Tinggalkan Balasan