Mbah Dalimin dan Ramadhan

Taiko. Yaa itulah nama bedhug Jepang, sejenis bedhug yang ada di langgar dekat kampoengku. Ketika kami diajak menari tarian bon di kota Togo (Aichiken), aku ditarik-tarik anakku untuk mendekati bedhug itu. Dan ternyata anakku ingin memukulnya. Persis aku kecil yang ingin memukul bedhug itu selama bulan ramadhon sesudah sholat terawih berakhir.

P1010353Yah, suara bedhug itu memang untuk mengiringi sholawatan yang ditembangkan oleh peserta sholat terawih, khususnya dikampoengku. Tapi umumnya, yang sholawatan yang sudah tua-tua, yang kira-kira umurnya lebih dari 20 tahun dan kebanyakan 40 tahun ke atas. Kita yang waktu itu di bawah dua belas tahun lebih tertarik untuk memukul bedhug. Kita memainkan seni bedhug bergantian, dan ketika gilirannya selalu bersaing ingin memainkannya mana yang lebih menarik dan tangguh (bisa bertahan lama). Dan, ketika sedang rame-ramenya mau tidak mau harus berhenti main bedhug manakala Mbah Dalimin sudah berteriak: “Wis leren Le!!….. sing sholawatan cangkeme wis mimiren”.
Mbah Dalimin, seorang tukang kayu tua yang aktif sholat berjamaah khususnya sholat terawih di kampoengku itu sudah meninggal. Dia orang yang sederhana. Pekerjaannya nyathok kayu. Banyak tetangga yang minta tolong ke dia untuk nyathokne rumahnya. Demikian juga, ketika kandang ayamnya Mbahku ambruk, dia menawarkan diri untuk nyathokne. “Wis kene takcathoke ngangge pring ori wae” katanya. Dia tidak mau dibayar, cukup minta disediakan makan, kopi, dan mbako untuk nglinthing rokok.
Mbah Dalimin tidak bisa melafalkan “alhamdulillah” selalu dilafalkannya dengan “alkamdulillah”. Pernah ketika dibetulkan cara pengucapannya oleh Kiai Atim, sebaliknya dia malah bertanya,
“Wong sing mung iso ngomong alkamdulillah kuwi, opo ora iso mlebu surgo?”
“Yo ora ngono Mbah Min, tapi yen ngucape bener kan atine tambah mantep. Yen ora iso yo ora opo-opo. Mosok pengeran nglebokne sampeyan nyang neroko goro-goro ilate sampeyan sing mbundhel kuwi. Sing penting sampeyan tingkah lakune nglakoni tuntunane islam, insya Alloh mlebu surgo”, jawab Kiai Atim.
Pertanyaan Mbah Dalimin ini mengiang kembali di benak saya ketika para pelayat tetangga kanan kiri mengantarkan disin Mbah Dalimin ke kuburan desa untuk dimakamkan. “Tiang niki sae nopo sae?” tanya Mbah Modin kepada para pelayat. Dan semua pelayat menjawab: “saeeeeeee!!!”
Semoga beliau masuk surga.

=kenangan ramadhan=

Tinggalkan Balasan