“Jinseitte konna mon desu ne”

Mungkin pengalaman saya ini dialami juga oleh teman-teman “sekampung” yang pernah ikut nomikai? Berkali-kali saya menemani teman-teman untuk “minum”. Setelah mereka sampai pada puncak yang namanya “minum”, beberapa kali saya dengar kalimat yang sama atau artinya setidaknya mirip dengan kalimat berikut: “jinseitte konna mon desu ne”, yang artinya “kehidupan itu seperti ini ya” atau yang lebih ekstrim (tentunya melihat situasi pembicaraan pada waktu itu) “kehidupan itu (yang paling indah, nikmat, dll) ya hanya seperti ini”. “Ini” yang dimaksud dalam pembicaraan di sini tentunya adalah minum, minum, dan minum sampai mabuk. Di sini tersirat bahwa yang paling nikmat ketika hidup adalah minum dan mabuk.

Saya teringat ketika masih berada di kampung ada tetangga yang namanya Kang Keyek, orang-orang menyebutnya “dewa mabuk” karena sukanya mabuk-mabukan. Hampir tiap minggu dapat dipastikan dia pulang sambil mabuk dan tentunya disertai dengan “ngoceh”. Dalam ocehannya dapat diketahui bahwa kenikmatan hidup yang dia rasakan hanyalah ketika mabuk. Walaupun demikian Kang Keyek menurutku “orang baik”. Dia tidak pernah “nakal” ketika mabuk. Dia tidak pernah mencuri untuk tujuan membeli minum. Dia seorang pekerja keras. Ketika diingatkan oleh Mak De Jo bahwa jika tidak mabuk kamu pasti dapat kaya,  jawabnya adalah: “Yo ben, wong duwit-duwitku dhewe, aku ora nyolong”.
Saya menyamakan dua kasus yang berbeda ini sebagai hal yang wajar. Wajarnya itu terletak pada tujuan duniawinya (badaniyahnya). Karena kenikmatan “konkrit” yang mereka dapatkan ya hanya dari “minum” itu. Tapi repotnya, menurut saya penganut ini berhadapan langsung dengan fatalisme. Ketika mereka menganggap kenikmatan hidup hanya seperti itu (minum), dan mulai membosaninya, ketika ada permasalahan sedikit yang melilit dan disertai dengan “kelupaan sesaat” dapat berakibat fatal. Fatalnya terletak pada anggapan bahwa hidup itu tidak mempunyai arti (hidup dan mati itu sama saja), yang berakibat lebih baik hidup ini di akhiri (bunuh diri). Hal ini juga dialami teman Kang Keyek. Yah……Kang Diran itu bunuh diri mungkin mengikuti alur pemikiran ini. Mungkin alur ini juga salah satu faktor yang menyebabkan Jepang sebagai negara yang prosentase kasus bunuh dirinya terbesar di dunia.

Tinggalkan Balasan