Jepang, baito, dan volentier

“Ronisan, dozo…. omiyage desu”, demikian kata Uchidasan begitu saya masuk kenkyushitsu.
“Are, doko kara kaette kita no?”, tanyaku.
“Amerika kara ryoko ni kaette kita no”, jawabnya.
Wah……enak sekali ya jadi orang Jepang. Dia hanyalah seorang cewek Jepang teman satu kenkyushitsu. “Menghidupi” kuliahnya mulai S1 hanya dengan kerja sambilan atau sering disebut dengan baito. Tetapi kelangsungan kehidupan sehari-hari dan kuliahnya saya nilai cukup. Artinya, dia hidup sama seperti mahasiswa lainnya, tidak ada yang lebih. Yang membuatku gedheg-gedheg adalah dia sudah belasan kali jalan-jalan ke luar negeri, sekali lagi “hanya” dengan baito.
Hal ini kontras sekali dengan kehidupan mahasiswa di tanah air. Saya tidak mengatakan “tidak ada”, tetapi hanya sedikit mahasiswa di tanah air yang dapat menghidupi kuliahnya dengan baito. Walaupun bisa menghidupi kuliahnya dengan baito, toh dapat dikatakan “tidak ada” yang bisa menyisihkan hasil baitonya untuk jalan-jalan ke luar negeri.
Kasus di tanah air ini tidak terjadi sendirian, tapi juga terjadi di banyak negara lainnya. Di China kurang lebih kasusnya sama. Tapi Cina punya Hongkong untuk tempat berkiblat, dan hasilnya China sedikit demi sedikit mulai bangkit perekonomiannya. Tapi apakah kita punya kota untuk berkiblat?
Bagi pemuda Jepang, pengalaman ke luar negeri merupakan aset penting untuk menata idealismenya. Oleh karena itu banyak juga pemuda Jepang yang menjadi volentier ke luar negeri, di antaranya dengan mengajar bahasa Jepang. Melihat semangat teman-teman Jepang yang volentier di Surabaya, walaupun mereka “digaji” seadanya, tapi mereka kerja keras untuk pekerjaan yang diserahkan kepadanya.
Volentier…. kata ini terasa janggal terdengar di telinga ketika masih berada di Surabaya. Tapi di negara sakura ini, kata ini seperti ada “berkah Pengerannya”, banyak orang mengejarnya. Banyak orang mengerjakannya demi mengejar kata “terimakasih”. Bukan hanya itu, konon surat keterangan pengalaman volentier dapat digunakan untuk lampiran melamar kerja. Berbeda dengan perasaan saya yang lebih melihatnya dari segi “uang”. “Kalau tidak ada uangnya tidak mau berangkat mengerjakannya”, begitulah kira-kira cara pandangku waktu itu.
Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa banyak orang Jepang mau menjadi volentier? Jawaban pertama mungkin sudah dikemukakan di atas. Namun apakah hanya untuk demi sepenggal kata terimakasih itu saja. Saya kira tidak! Lagi-lagi, keadaan perekonomian negara secara umum dapat menjelaskan hal ini. Saya kemudian berandai-andai jikalau dilahirkan sebagai seorang Jepang. Saya mestinya juga mengalami kehidupan sama dengan Uchidasan teman saya tadi. Dalam hal mencari kerjaan, kuatir iku mesti ono tapi tidak sekuatir jika saya menjadi seorang Indonesia. La kepriye, wong hanya dengan baito saja bisa jalan-jalan keluar negeri, apalagi jika kerja sungguhan. Kalaupun toh tidak dapat kerjaan tetap, kan bisa baito. Halah itu kan pikirane wong Indonesia he he he. Kalau asli orang Jepang mestine nuntut lebih dari itu.
Tapi ya… mungkin pemikiran seperti itu lah yang membuat banyak orang Jepang rela menjadi volentier. Kalau kita sih kayaknya masih berada pada level masyarakat yang disibukkan oleh hal mencari kerja (bukan mencari baito ya). Kalaupun sudah bekerja, masih berada pada level untuk menghidupi keseharian. Kalaupun lebih sedikit, itu untuk membayar cicilan perumahan di RSSSSSS (rumah sangat sempit sekali sehingga sulit sekali……sleep). La kepriye to. Aku sih volentier ok-ok saja, tapi keluargaku mangan opo? Kowe opo gelem menehi mangan selama aku volentier?

Tinggalkan Balasan