Kartun Fira: Gambar diri dengan berbagai pakaian

Mungkin ini maksudnya menggambar dirinya sendiri dengan berbagai pose dan berbagai gaya pakaian.

Kartun Fira: Sketsa dalam bayangannya

Sketsa Pakaian Ratu dan Putri

Sketsa bentuk rambut

Kartun Fira: Adik dan Teman-temannya

Berikut ini kartun Fira, mungkin yang dimaksud adalah dirinya sendiri dan adiknya, Si Kennes.

Ini katanya Kennes sedang menyanyi.

Ini Mbak Fira bersama Kennes memakai busana renang

Kalau yang berikut ini mungkin yang dimaksud adalah dia sendiri dan teman-temannya Indonesia di Nagoya, Shafirachan (Putri Pak Risa) dan Amachan (Putri Pak Eko). Mereka lagi menjadi anggota oenkai.

Kartun Fira: Ojoosantachi

Fira menggambar ojoosan (putri), mungkin begitu maksudnya.

Kartun Fira: Setengah Badan

Fira menggambar kartun setengah badan

Kartun Fira: Ojosan

Berikut ini kartun-kartun karya anakku, Safira Ghina Fahrani.


Aku menemukan dompet jatuh

Bagaimana perasaan anda jika menemukan dompet jatuh? Cuek, pura-pura tidak tahu? Atau, senang karena menemukan dompet yang mungkin banyak uangnya? Mengambilnya dan memberikan ke kantor polisi terdekat? Dan mungkin masih ada perasaan lain yang terlintas di kepala anda.

Hari ini kami berempat, istri dan kedua anakku pergi ke taiikukan untuk ikut pertandingan badminton. Istri dan anak berangkat duluan, aku menyusul di belakangnya dengan berlari kecil kira-kira 20 meter di belakangnya. Tapi, istriku tiba-tiba berbalik arah seolah menyambutku. Ada apa gerangan? “Mas, ada dompet jatuh!”, teriak istri. Aku setengah berteriak, biarkan daripada bermasalah. Dan ini adalah kebiasaan kami jika mendapatkan barang jatuh. Kami tidak berani mengambilnya: takut. Entahlah kenapa saya takut, takut sekali. Bahkan kalau saya menemukan barang di jalan saya menganggapnya sebagai musibah, nasib buruk. Musibah karena perasaan takut ini selalu menghantui.

Kami orang asing yang hidup di Jepang. Tujuannya hanya satu, study dan setelah itu kembali ke tanah air. Saya tidak ingin bermasalah dengan undang-undang Jepang selama study. Ingat cerita di milis sesama orang Indonesia yang dituduh mencuri di supermarket. Atau mencuri sepeda. Dan dituduh mencuri sepeda ini betul-betul aku alami sendiri beberapa kali. Sampai sampai aku menganggap polisi Jepang itu resek. Apapun yang kita kerjakan selalu di-shuudoni. Yah, bagaimanapun kita orang asing, selalu dicurigai lebih dulu dari pada mereka sesama orang Jepang.

Kenapa orang Jepang selalu curiga terhadap orang asing. Memang banyak sekali kejadian pencurian yang dilakukan oleh orang asing. Sebelum banyak orang asing di Jepang, konon negara ini aman. Setelah pemerintah Jepang memutuskan untuk mendatangkan pelajar asing sebanyak-banyaknya, dan ditambah lagi karena keterpaksaan mendatangkan “tenaga kerja asing” karena kekurangan tenaga kerja, maka di Jepang di mana-mana kita temukan orang asing.

Masih ingat cerita teman lab tadi malam ketika nomikai. Dia mengatakan bahwa ada kampung di Jepang yang karena amannya tidak ada orang mengunci rumah: tidak ada pencuri. Ada lagi di lain tempat pernah ditayangkan di TV Jepang, bahwa ada warung sehari-hari yang tidak pernah ditunggui. Kalau orang mau beli barang yang ada di situ, naruh saja uang sejumlah harga yang tertera dan mengambil barangnya. Betapa keadaan seperti itu akan sangat membuat kita nyaman. Tidak ada pencuri, dan semua orang di situ berlaku jujur. Suasana ideal yang diharapkan terjadi di negara-negara beragama malah terjadi di salah satu kampung negara yang tidak “mempercayai” agama.

Kembali ke masalah dompet tadi. Sebenarnya istri dan anak sudah membiarkannya, tapi ndak tahu kenapa kali ini istriku kembali dan menunjuk ke arah dompet itu. “Biarkan, jangan disentuh atau mengambilnya!”, teriakku sekali lagi. Dalam hati kecilku sebenarnya mau mengambilnya dan menyerahkannya ke kantor polisi. Tapi di sekitar sini tidak ada kantor polisi. Tambahan lagi bagaimana jika malah kita dituduh yang bukan-bukan. Mengambil uangnya misalnya, dan hanya mengembalikan dompetnya saja. Duh, betapa malangnya jika dituduh demikian. Sebenarnya di pojok hati yang lain ambil saja, jika dituduh hal yang bukan-bukan minta tolong kepada kenalan yang juga seorang polisi. Atau, hal terjelek kita terima saja tuduhan itu, yang penting kita sudah berlaku jujur. Toh, yang menilai kejujuran hati kita sejati hanya yang mbau rekso urip.

“Mas, kalau ada dompet jatuh, harus kita selamatkan!”, aku tersentak dengan ucapan istriku. “Ibu tidak sedang ingin menjadi pahlawan, kan. Tidak sedang ingin sok menyelamatkan dompet itu, kan”, protesku dalam hati. Dia bercerita bahwa temannya seorang Jepang mengatakan begitu kepadanya. “Hontoo (sungguh)?”, aku masih tidak percaya. Ketakutanku lebih mendominasi, daripada bertindak sok seperti itu. “Kita lihat saja, takutnya ada barang penting. Kalau tidak ya kita taruh saja di tempat semula, atau di atas tembok yang mudah terlihat. Mungkin si pemiliknya kembali untuk mencarinya”, jelas istriku. Aku seolah mendapat kekuatan untuk menyetujui istri mengambil dompet itu dan membukanya.

Akhirnya, dompet itu kita buka bersama dengan kedua anakku pula. Betul, di sana ada uangnya. Sejujurnya aku tidak ingin tahu atau melihat uang itu, apalagi jumlahnya: musibah! Ada juga berbagai kartu, mulai kartu bank, kartu mahasiswa, kartu anggota klub tertentu, dan kartu-kartu lainnya, yang aku tidak ingin mengetahui lebih jauh jenisnya. Kebetulan di tempat yang mudah ditangkap mata ada kartu nama dan ada nomor HP-nya. Segera saya hubungi HP itu. Ternyata dia bukan pemiliknya. Istri menunjukkan kartu mahasiswa dan mengejanya, saya tirukan untuk memberitahu orang diseberang telepon. “Oh, dia sempai (senior) saya”, jawabnya. Saya bertanya, bagaimana saya menghubunginya, karena memang di situ tidak ada nomor teleponnya. Ah, mungkin ada kalau aku mau mencarinya di sela-sela lain di dompet itu. Pasti ada karena banyak sekali kartu-kartu di situ. Tapi, aku ndak mau menelusuri barang-barang yang ada di dompet itu. “OK, kalau begitu saya akan menghubungi senior saya itu untuk menelepon anda ya.” terdengar suara di ujung HP sana. Tentu saja segera aku iyakan.

Sementara aku lega dan melanjutkan langkah kaki menuju ke lapangan badminton. Terlintas berbagai perasaan jika ini dan jika itu bagaimana? Embuh, kalau ada apa-apa saya akan telepon ke teman polisi dan menceritakan apa adanya. Saya yakin dia akan lebih mempercayai aku karena kita berteman sudah lama sekali. Atau, kalau tidak ya diterima saja tuduhan itu, namanya juga musibah. Dan, memang itu kan selama ini jalan pikiranku.

Selesai badminton, aku buka HP. Dan, benar. Ada telepon masuk 8 kali dari nomor HP yang sama. Mungkin dia si pemilik dompet. Aku telepon ke nomor tersebut berkali-kali pula, tidak ada jawaban. Semakin menjadi-jadi perasaan ini. Aku berunding dengan istri dan seorang teman lagi, enaknya bagaimana. Terlintas di benakku untuk menyerahkan ke pos security kampus. Dan, itu keputusan akhir. Di pos security aku mengisi lembaran barang temuan (ketinggalan), dan menjelaskan tentang hal yang sudah saya lakukan seperti menelepon nomor yang tertera di sebuah kartu nama di dompet itu. Seperti yang aku duga, security itu menanyakan juga ada atau tidaknya uang di dompet itu. Aku menjawabnya, “Kelihatannya ada, tapi saya tidak ingin mengetahui berapa jumlahnya.” Security itu mengangguk-angguk dan menanyakan bagaimana tentang 10% uang yang ada di dompet itu. Aku tidak begitu mengerti dengan penjelasan ini. Akhirnya, dia menjelaskan bahwa biasanya jika ada uangnya akan diberikan 10%nya kepada si penemunya. Itu yang aku tangkap dari penjelasan itu, mungkin salah. Segera aku jawab bahwa saya sama sekali tidak berharap dengan 10% uang yang ada di dompet itu. Dan aku jelaskan juga dengan mantab bahwa jika ada apa-apa (dalam hatiku termasuk jika ada tuduhan itu) silakan telepon ke nomor telepon saya. Aku pulang.

Rasanya tidak adil juga sikapku ke orang Jepang. Aku sudah shuudon ke pemilik dompet itu akan menuduh aku yang bukan-bukan. Huh, ketakutan yang berlebihan. Mungkin itu hukum alam kali: kita sering dishuudoni akibatnya kita juga shuudon ke mereka orang Jepang. Tapi, bukankah aku dan keluargaku dikelilingi oleh orang-orang Jepang yang baik-baik. Jadi, untuk apa aku “ngreken” cerita di luar sana yang tidak terjadi pada keluargaku. Cukuplah cerita menyedihkan di luar sana sebagai peringatan untuk selalu berhati-hati saja.

“Kringggggg, kringgggggg, kringggggg”, HP-ku berdering. “Watashi wa (saya) bla….bla….bla….. dan bla…..blaa…..blaaa……, terimakasih atas pengembalian dompet saya”, nerocos suara perkenalan, ucapan maaf karena tidak mengangkat telpon dari aku, serta ucapan terimakasih berkali-kali dari ujung HP di sana. “Terimakasih kembali. Saya tidak apa-apa”, jawabku singkat. Ternyata dia juga sedang pertandingan juga, tapi pertandingan tenis. Oleh karena itu tidak bisa mengangkat telpon dari saya. Loh, jangan-jangan dia adalah salah satu orang dari sekian banyak orang yang bermain tenis di lapangan tenis dekat taiikukan tadi. Hari ini memang udara cerah dan sedikit hangat, jadi banyak yang mengadakan pertandingan. Termasuk kami orang-orang PPI di Nagoya, orang Indonesia di Nagoya, perawat Indonesia, temannya teman orang Jepang, Amerika, dan lain-lain.

Aku pandangi MAYONES di samping komputer. Tidak bisa tidur saudara….. mungkin terlalu capek main badminton siang tadi. Hari ini aku menang badminton, hadiahnya yaaaa mayones itu. Kebetulan si Kennes, anakku yang kecil suka sekali karaage yang “didulitkan” di mayones. Kloplah. Sekali lagi ku lirik mayones sambil berharap semoga tidak dipertemukan dengan barang jatuh lagi.

April 2010

Roni

Cebok dan Tangan Kiri

Mohon maaf kalau kali ini saya bercerita tentang sesuatu yang sedikit jorok. Tapi jorok atau tidaknya sebenarnya tergantung ke persepsi kita. Ini semua hanya salah satu masalah kecil dalam pembicaraan frem budaya Jepang dan Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu ketika ikut borantia pengumpulan dana untuk beasiswa anak-anak Indonesia, saya bertemu dengan seorang teman lama. Dia bercerita bahwa dia diundang untuk mengajar bahasa Jepang di Indonesia. Rupa-rupanya dia kuatir sekali dengan keadaan toilet di Indonesia.

Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa orang Jepang kalau cebok memakai kertas tisu dan sebaliknya kita menganggap bahwa kalau hanya dengan tisu kurang bersih, yang bersih itu ya cebok pakai air. Di sini terjadi semacam perbedaan pandangan tentang arti bersih dalam hubungannya dengan cebok-mencebok itu. Di satu pihak dalam pandangan kita kalau hanya dengan tisu itu tidak bersih tapi sebaliknya bagi orang Jepang justru kalau kena air akan “beta-beta” kotor. Dalam Islampun rupanya ada semacam “derajat” bahwa kalau berwudhu ya pakai air, kalau ndak ada air ya bertayamum entah pakai pasir atau debu. Kalau tisu dapat kita sejajarkan dengan pasir maka tisu itu derajatnya lebih rendah daripada air. Tapi pikiran pembaca jangan dibawa kearah cebok dengan pasir ya he he he.

Selain itu, jangan sekali-kali menjelaskan kepada teman Jepang kita untuk membuang tisu ke toilet di Indonesia, bisa berakibat fatal. Toilet macet. Saya ndak tahu, mungkin konstruksi saluran toilet ke tempat pembuangan berbeda antara Jepang dan Indonesia. Di masyarakat umum Indonesia, toilet memang tidak didesaign untuk dapat dibuangi tisu.

Kembali ke laptop. Setelah saya jelaskan kenapa orang Indonesia mantap bercebok dengan air dan terasa bersih seperti di atas, teman Jepang saya itu memakluminya. Toh juga dihanduki, mungkin dia mencernanya seperti itu. Satu lagi yang membuat jijik dalam sudut pandang budaya Jepang adalah bersentuhannya secara langsung antara tangan dan bokong (maaf untuk mengganti istilah dubur). Seperti kita ketahui juga bahwa Jepang berusaha menghindari memegang makanan dengan tangan secara langsung, melainkan sebisa mungkin memakai sumpit. Oleh karena itu, kebanyakan orang Jepang sulit menerima kebiasaan makan dengan tangan. Pikirku kalau dibayangkan saja memang demikian, tapi sudah banyak pula orang Jepang di Indonesia yang bisa merasakan enaknya makan dengan tangan.

Demikian juga, dunia sentuh menyentuh ini juga berlaku dalam hal cebok. Jangan sampai tangan menyentuh bokong secara langsung. Diutarakannya bahwa kalau orang Indonesia kalau cebok, sambil menyiram air kan tangan bersentuhan langsung dengan bokong untuk membersihkannya. Orang Jepang berusaha menghindari hal ini. Oleh karena itu, digunakanlah tisu untuk membatasi diantaranya. Mungkin dalam sudut pandang kita, pakai tisupun kan tetap tangan bersentuhan dengan bokong, meskipun secara tidak langsung he he he.

Nah untuk menjauhkan atau meminimalkan peran tangan terhadap bokong ini, Jepang sudah mengembangkan tehnologi toilet duduk yang serba otomatis. Lihat saja di rumah-rumah,  manshion-manshion modern ataupun kampus, toiletnya sudah dilengkapi dengan peralatan yang juga modern. Sayapun sering membayangkan jika toilet kampus itu ada di apartemen saya betapa nikmatnya he he he. (Maklum apartemen saya apartemen tua)  Dengan sekali sentuh kotoran di WC mengalir sendiri, dengan sekali sentuh pula ada air muncrat yang tertuju ke bokong kita untuk membersihkannya, tanpa perlu mendekatkan jari jemari kita ke bokong, kekencengan airnyapun bisa diatur. Tidak itu saja, untuk mengeringkannya juga cukup sekali sentuh WC duduk itu akan mengeluarkan hawa hangat untuk mengeringkan air yang masih nempel di bokong. Kalau musim dingin tiba, kita malas untuk membuka sebagian penutup tubuh kita. Tidak demikian halnya dengan toilet ini. Begitu kita duduk, hawa hangat juga keluar secara otomatis memenuhi ruang dalam badan toilet duduk ini. Luar biasa bukan………..

Kembali ke laptop. Tangan bersentuhan ke bokong dan akibatnya kotor adalah hanya persepsi saja.  Persepsi yang sudah membudaya. Toh setelah kita cebok, tangan juga kita cuci dengan sabun pula. Tapi memang persepsi kotor ini tetap akan mengelabuhi pikiran orang Jepang dan juga orang Indonesia. La bagaimana tidak, sejak kecil kita sudah diajari oleh orang tua kita untuk membedakan peran antara tangan kiri dan tangan kanan. Tangan kanan untuk makan, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Jangan pernah memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri kita, tidak sopan. Iya to. Sebaliknya tangan kiri punya peran utama untuk cebok itu tadi, dan karena berhubungan dengan cebok maka tangan kiri kita anggap derajatnya lebih rendah daripada tangan kanan. Akibatnya yang berhubungan dengan tangan kiri dipersepsikan tidak sopan, menghina, dan hal jelek sejajar lainnya. Kita sudah berlaku tidak adil terhadap dua tangan kita. Tapi, ya bagaimana lagi, wong sudah menjadi budaya.

Sebaliknya kalau di Jepang, karena kedua-duanya dianggap tidak kotor, maka memberi sesuatu kepada orang lain baik dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri ya sama saja. Tidak ada pembedaan peran antara tangan kiri dan kanan seperti halnya kita. Inipun juga budaya. Kita tidak boleh mengukur budaya Jepang dengan budaya kita, demikian juga sebaliknya.

Bagaimana hubungannya dengan kodrat, ada orang yang diciptakan dengan orang kidal? Artinya tangan kiri lebih kuat, dominan dari pada tangan kanan. Embuh, pikiren dewe……….

Salam,

Roni

Ise Jingu dalam Foto

Hari minggu kemarin kita sekeluarga bersama keluarga Kamiya pergi ke Ise Jingu dan Futami Jingu. Ise Jingu berada di Kota Ise Propinsi Mie. Konon sepertiga wilayah Kota Ise merupakan milik Kuil Ise Jingu, jadi bisa dibayangkan besarnya kekuasaannya di masa lalu.

Kalau ke Ise Jingu, jangan lupa mampir di warung AKAFUKU. Warung mochi ini beberapa waktu lalu heboh di TV karena pernah menghentikan produksinya yang sangat disukai masyarakat Jepang. Begitu dibuka, masyarakat antri mulai subuh.

Akafuku menjual kue mochi seperti di foto. Satu porsi 250 yen berisi tiga mochi plus ocha (teh Jepang).

Memang rasanya beda. Saya tidak suka mochi (ketan) tapi begitu berhadapan dengan kue mochi Akafuku ini, mau tidak mau saya harus menyukainya, enakkkkkkkk he he he.

Suasananya nyaman.

Bapak-ibunya in action, anak-anaknya ngrumpi dibelakang, ngerubungi ayam jago. Si Kennes heboh melihat ayam jago. Duh, ndukkkkk kasihan banget kowe. Lihat ayam saja kok nggumun.

Suasana menuju Ise Jingu.

Seperti dalam Islam, sebelum bersembahyang mereka “berwudhu” dulu: basuh tangan kanan dan kiri, ada juga yang minum.

Mereka bersembahyang dari luar pagar. Hanya orang tertentu yang bisa masuk ke dalam pagar. Itupun hanya di depan pintu gerbang bangunan utama, tidak boleh masuk. Cara ritualnya: menepukkan tangan dua kali (seperti orang tepuk tangan), membungkuk (ojigi) dua kali, dan menepuk tangan lagi satu kali.

Ise Jingu ini sangat luas sekali, banyak sekali pohon-pohon besar menjulang. Hampir tiap kuil kuno di Jepang selalu banyak pohon sih. Rindang, mungkin suasana inilah yang membuat hati tenteram.

Fira dan Kennes hanya seberapanya pohon saja……

Keluar dari area kuil, menyeberangi jembatan.

Makan siang, paling aman ya soba (mie). Kennes minta difoto ketika sobanya menjuntai di mulutnya……

Kenyang…..

Bye….bye…..Ise……

Terakhir kita ke Kuil Futami Jingu. Walaupun hanya seperti di foto ini, tempat ini terkenal di Jepang.

Nagoya, 17 Januari 2010

Roni

Saradan

Tiap orang mempunyai SARADAN (b Jawa), yaitu suatu naluri berinteraksi dalam hubungannya dengan kesukaan. Ada banyak sekali saradan, di antaranya adalah

1. Saradan yang suka memalukan orang lain di depan umum. Entah di manapun berada, dia selalu ingin menjatuhkan “martabat” orang lain. Misalnya di meeting, di tempat disku…si, di milis, bahkan di forum ngobrol sekalipun.

2. Ada juga yang mempunyai saradan WATON SULAYA, yang penting berbeda, semua ide orang lain dimusuhi. Walaupun yang diungkapkan orang lain itu benar, tapi dia selalu selalu mencari celah agar bertentangan.

3. Sedikit berbeda dengan waton sulaya, ada juga saradan yang suka mendebat. Apapun yang dinyatakan orang lain selalu didebatnya sampai dia yakin betul terhadap bukti-bukti yang didebatnya. Dulu ada teman kos yang punya saradan ini, kalau dilayani bisa semalaman. Dia tidak takut berhadapan dengan beberapa orang sekaligus…. Sering kita yang “waras” mengalah agar bisa tidur.

4. Pernahkah mempunyai teman yang selalu merendah, merasa tidak pantas disejajarkan dengan teman-temannya, dan selalu menolak untuk menjadi pucuk pimpinan? Walaupun secara otak encer sekalipun, tapi dia selalu merasa rendah diri. Inilah saradan seseorang yang suka merendah-rendah.

5. Kebalikan dari merendah-rendah adalah saradan yang suka menyombongkan diri. Di setiap tema ngobrol dengan teman-temannya dia selalu berusaha menarik pembicaraan ke arah dirinya, begitu ada kesempatan maka diumbarlah cerita tentang dirinya yang ini dan yang itu. Kalau ketemu orang dengan saradan ini, bombonglah dia, mak…a akan semakin berkibar ceritanya.

6. Sedikit berbeda dengan menyombongkan diri. Mungkin karena tidak ada yang bisa disombongkan (smile) maka dia mengagung-agungkan orang lain. “iya seperti pakdeku / temanku / anaknya temanku / temannya temanku / guruku / dst” adalah kata-kata yang sering dilontarkan. Setiap ada pembicaraan dia akan menariknya ke arah pembicaraan orang-orang yang diagungkannya.

7. Banyak orang yang menuntut kesamaan dalam “keberhasilan”. Bagaimana jika dia iri terhadap keberhasilan orang lain, di lain pihak dia tidak dapat “berprestasi”? Maka agar prestasi orang lain tidak kelihatan menjauh dengan si dia, jalan pintasnya adalah menyebarluaskan borok orang tersebut. Dengan begitu dia berharap dap…at mengurangi nilai prestasi orang lain. Kita agak repot menghadapi orang dengan saradan ini ya.

8. Mungkin kita telah membuat salah di masa lalu. Tapi si dia dalam setiap kesempatan selalu mengungkit-ungkit kesalahan kita, yang sudah berlalu bahkan amat sangat lampau. Kalau hanya sekali dua kali tidak apa-apa ya, tapi kalau dilakukan berkali-kali setiap ada kesempatan, akan membuat kita jengkel ya. Kalau yang diungkit itu hal yang baik tidak apa-apa sih he he he.

9. Selain saradan yang suka mengungkit-ungkit masalah di masa lalu, ada juga saradan yang suka NGRUMPI. Di tempat manapun ini banyak kita temukan, mulai dari lingkungan kampus, kafe, warung kopi, bahkan di forum mbok-mbok yang di desa disebut dengan “petan” pun sering kita temukan. Bahan rumpiannyapun beragam, mulai dari …soal politik, tetangga, cowok, cewek, sampai harga cabe rawit pun bisa menjadi topik yang menarik.

10. Apakah anda merasa menjadi orang yang paling pintar sampai-sampai menganggap orang-orang di sekitar anda semuanya bodoh? Ada saradan yang suka menganggap orang lain itu bodoh. Dia merasa paling tahu atas semua tema dalam setiap pembicaraan. Pada setiap forum, dia selalu meremehkan orang lain baik dalam sikap maupun ucapan. Apakah kita punya saradan ini?

11. Ada orang yang kalau berkomunikasi selalu berkata yang manis-manis, menyanjung, merayu, dan sebagainya. Kalau dia seorang yang berpendidikan maka rayuannya akan memabukkan. Mungkin begitulah saradan yang suka menjilat. Suatu saat saradan ini diperlukan mungkin untuk merayu cewek, minta uang ke orang tua, atau ber-ABS k…e atasan he he he, …tapi kalau keseringan takut dicap sebagai penjilat.

Roni

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.