Melanjutkan pembicaraan tentang permasalahan yang menjadi PR bagi Jepang.
Jepang setelah perang dunia ke 2, akhirnya dalam istilah pewayangan “masuk kotak”. Beberapa tahun setelah itu, mau ngerjain apa masyarakatnya. La wong, wis kalah perang. Pertahanan ke luar diurusi oleh militer Amerika. Ya…. akibatnya “sering tidur” di rumah, yang menyebabkan “mala petaka” (mosok ginian kok mala petaka he he he) banyak anak: booming anak. Akibatnya jumlah penduduk Jepang meningkat tajam. Dan anak-anak yang lahir setelah perang itu sekarang sudah tua menjadi manula dan sakit-sakitan, sehingga butuh perawatan.
Sementara itu akhir-akhir ini pemuda Jepang sekarang jumlahnya sedikit akibat dari shoshika 少子化, kecilnya jumlah kelahiran anak yang terjadi 20 tahun terakhir. Jumlah manula Jepang data 2007 adalah 4.530.000 orang. Sedangkan perawat yang khusus mengurusi manula ini berjumlah 1.250.000 orang. Dan, akibat dari apa saya ndak tahu, satu orang perawat dari setiap empat orang perawat mengundurkan diri tiap tahunnya. Padahal jumlah ideal perawat khusus manula ini adalah 2.500.000 orang.
Wah repot juga. Apalagi gaji sebagai perawat manula ini tidak menjanjikan. Jika rata-rata seorang sarariman menerima bayaran 3 juta yen per tahun atau tiap bulannya 250.000 yen (sekitar 25 juta rupiah), maka perawat khusus untuk manula ini hanya mendapatkan 1.9 juta yen atau kurang dari 160.000 yen (sekitar 16 juta rupiah). Dari gaji ini, jika untuk biaya apartemen 50 ribu yen saja sisanya 110 ribu yen untuk keperluan yang lainnya, ya makan, telpon, air, gas, pacaran, dsb. Mana cukup? Kapan nabungnya untuk mengkredit rumah? Mungkin inilah yang mengakibatkan banyak perawat yang mengundurkan diri.
Akhir-akhir ini didatangkan perawat dari Indonesia. Bukannya tidak ada masalah. Perawat Indonesia itu harus mempelajari bahasa Jepang. Padahal untuk menjadi perawat di Jepang harus mendapatkan sertifikat perawat, standar Jepang. Dan, untuk lulus agar mendapatkan sertifikat itu bukan perkara gampang. Katanya hanya beberapa orang saja yang diperkirakan bisa lulus. Belum lagi masalah, Jepang harus membayar ke organisasi internasional apa begitu (yang saya tidak paham organisasi apa itu) terkait datangnya perawat ke Jepang ini. Padahal untuk mengurangi pengangguran di Indonesia, saya berharap Jepang banyak mengambil perawat dari Indonesia he he he. Walaupun pemikiran saya itu juga sebenarnya bermasalah. La bagaimana, yang didatangkan ke Jepang itu kan perawat berpengalaman di Indonesia. Artinya perawat yang bisa mendaftar ikut seleksi ke Jepang harus punya pengalaman menjadi perawat di Indonesia. La terus kalau perawat berpengalaman pada ke Jepang, yang di Indonesia kan hanya kebagian sisa perawat-perawat yang baru lulus, yang harus mengajari macam-macam sejak awal.
Nagoya, Ramadhan 2009
Roni
DIarsipkan di bawah: info ringan | Ditandai: manula di jepang, orang tua di jepang, perawat indonesia | Leave a Comment »

















































Fira bersama Kennes, Dafa, dan Ian