Blog dan Link

Blog Pak Suyatno Bahasa Indonesia: Gardu Guru

Blog Anto Satriyo Nugroho: Corat-coret Anto

Blog Mbak Murni Ramli: Berguru

Kiyomizudera

Hari ini baru saja main ke kota tua di Jepang: Kyoto. Seperti halnya Yogyakarta di Indonesia, kota ini memang eksotik. Sudah sedikitnya lima kali ke Kyota, dan itu tidak membuatku bosan. Kali ini pergi ketika liburan golden week di Jepang. Untuk menghindari macet keluargaku dan keluarga seorang teman Jepang berangkat pagi-pagi, jam lima pagi. Si Kennes masih ngantuk ketika berangkat, dan benar saja begitu naik mobil anak-anak langsung tidur: Si Fira, Toshikun, dan Reinachan, termasuk Soessan. Aku harus tetap terbangun untuk menemani Kamiyasan yang nyopir, dengan ngobrol ke sana kemari.

Sampai di Kyoto masih pagi sekitar jam tujuh, tapi parkir mobil pemerintah terdekat dengan Kiyomizudera sudah penuh. Terpaksa kita pakai parkir umum, yah apa boleh buat, walaupun sedikit lebih mahal tapi irit tenaga.

Kiyomizudera. Saya mengunjungi kuil ini sudah yang ketiga kalinya, dan tetap tidak membuatku bosan. Kuil ini dibangun dilereng bukit dengan tiang penyangga puluhan bahkan mungkin mungkin ratusan kayu sebesar pohon kelapa.

DSC_0101blok1

DSC_0023blok2

Foto Kiyomizudera dari beberapa sudut sebagai berikut.

DSC_0094blok4

DSC_0109blok5

IMG_0841blok6

Dan yang juga terkenal di kuil kiyomizudera adalah pancuran di bawah ini. Cukup lama antriannya untuk berjuang hanya sekedar mendekat dan dapat menyentuh air pancuran itu. Aku dan kedua anakku kusempatkan juga sekedar cuci tangan dan incip airnya. Gayung ungtuk mengambil air jumlahnya banyak, dan sekali digunakan langsung dimasukkan lagi ke kotak ultra violet untuk menjaga kesterilannya.

DSC_0026blok8

IMG_0854blok7

Setelah cukup lama di kuil Kiyomizudera, perjalanan dilanjutkan ke Tokyo Studio Park. Di tempat ini di setting sedemikian rupa layaknya rumah perkotaan jaman dulu di Jepang. Rumah-rumah papan dari kayu diatur sangat rapi. Sesuai dengan namanya Kyoto Studio Park pada awalnya (dan sampai sekarang) dipergunakan untuk lokasi shooting film-film samurai, termasuk seri drama kesukaanku Mito Komon.

blok1DSC_0163

Ada juga ledok yang di daerahku Tulungagung sana dinamakan dengan “cikar goglag”. Kennes, Fira, dan Toshi main-main dengan cikar goglag ini.

Blok2DSC_0199

Ketemu juga dengan “Oshin” dan “Takeshi”. Tentu saja waktu tidak kita sia-siakan, minta foto bareng.

blok3IMG_0860

blok4IMG_0862

Setelah foto-foto, eeeee Kennes ingin belajar memanah…….

blok5IMG_0865

Di tengah-tengah memanah, ada cewek Jepang pakai kimono bagus sekali, kayaknya mau shooting. Langsung minta ijin untuk foto bareng he he he.

blok6IMG_0867

Di atas jembatan buatan. Memang bagus sekali untuk shooting. Seperti terasa ikut main film he he he.

blok7IMG_0871

Kita sempat juga nonton tetare tradisional semacam ketoprak atau ludruk di Indonesia. Sebelumnya ada sedikit permainan game tradisional Jepang. Ikut foto bareng dengan si pemain game.

bloka1IMG_0888

bloka3DSC_0228

Alat ini biasanya kalau di film-film samurai untuk menggotong bangsawan. Kadang juga menyewakan diri untuk nggotong orang …. ya semacam becak di Indonesialah. Fira dan Kennes juga ingin merasakannya.

blok9IMG_0878

Fira dan Kennes rebutan foto sama ninja.

bloka2IMG_0890

Sebelum keluar dari Kyoto Studio Park kita sempatkan juga foto bareng sebelum pulang. Ada Pak Kamiya, tapi si Toshikun ndak mau ikut foto.

blok8IMG_0873

Dan terakhir tujuan kita adalah museum di Kyoto.

bloka4DSC_0263

bloka5DSC_0267

bloka6DSC_0273

bloka7DSC_0272

bloka8DSC_0290

Setelah capek di sini kita pulang, jangan sampai pulangnya kesorean, karena pasti macet, maklum liburan golden week. Kelihatan ditulisan kan, kalau macet….

blokb1DSC_0304

Pulangnya, saya sempatkan memotret trowongan. Di Jepang ini banyak sekali jalan-jalan yang seperti menembus bukit-bukit, yah…….. banyak sekali trowongan dibangun demi tujuan kepraktisan dan biar jalan tidak terlalu berkelak kelok.

bloka9DSC_0306

blokb2DSC_0310

Setelah masuk keluar trowongan, akhirnya sampailah kita di Nagoya tercinta. Tsukareta kedo tanoshikatta. Terimakasih Kamiyasan, Toshikun, dan Reinachan…………

Bunga Ume

Tanggal 1 Maret 2009, kami sekeluarga pergi ke 名古屋農業センター.
img_0101sip

Hari-hari gini apalagi kalau bukan untuk menikmati indahnya bunga ume. Setelah daun-daun berguguran pada musim gugur, maka pohon-pohon pun tinggal ranting-ranting tanpa daun. Pohon itu terus terlelap pada musim dingin, dan mulai membuka matanya pada musim semi.
dsc_05922

Bunga ume tahan terhadap dinginnya musim fuyu dan menjadi bunga among tamu untuk menyambut kedatangan mekarnya bunga-bunga yang lain pada musim semi. Jadi, bunga ume merupakan bunga pembuka jalan untuk munculnya bunga-bunga yang lain.
dsc_0563

Kami dan beberapa keluarga Indonesia naik chikatetsu, penuh. Tiba di stasiun tujuan ada intruksi berjalan kaki saja, walaupun sebenarnya ada bis yang menuju ke lokasi.
dsc_0487

Jalan-jalan menuju Nagoya Nogyo Senta penuh, tidak hanya lautan manusia yang berjalan kaki, tapi juga mobil-mobil berjubel merambat menuju lokasi.Tidak lupa ada mobil penjual ishiyakiimo (石焼き芋) di sebelah kiri.
dsc_0489

Begitu sampai rasanya legaaaaaa. Ada hamparan pohon ume yang sedang bermekaran.
dsc_0504

Tentu kesempatan ini tidak aku sia-siakan, cari objek yang bagus sekalian latihan jeprat-jepret dengan Nikon D40 kesayangan.
img_0110

Hasilnya, coba kita intip dari tempat yang agak rendah……………すごいでしょううううう.
dsc_0509

Anak dan istri harus diikutkan dong….
dsc_05141

Beginilah suasana orang-orang Jepang menikmati indahnya bunga ume. Mmmmmmmmm………..
dsc_0537

Ada dua warna yang sangat kontras. Merah-Putih? Kayak bendera kita saja… Tepatnya merah muda dan putih. Coba kita lihat dari dekat. Sambil latihan jeprat-jepret nih critanya. Yang merah dulu.
dsc_0566

Ini yang putih…….
dsc_0531

Di tengah kebun ume ini terdapat kolam kecil, dengan sungainya yang berair bersih. Waduh, Si Kenes sama Ariel-kun main air lagi. Thathukan thok lagi. Malu achhhh.
img_0116

Capek main air, laparrrrrrrrrrrrrrrrr. Minta suap Bapak lagi. Nyamm nyammm nyamm.
img_0120

Setelah makan siang, tidak lupa kita sholat dzuhur berjamaah. Wah jadi kelihatan sedikit demonstratif nih. Habis mau sholat di mana lagi, yah di sinilah. Kata istri sampek ada orang Jepang ngesot dengan handycam sampai selesai.
img_0112

Yah…………………….. seharian menyelusuri kebun ume, hasilnya capek. Sebelum pulang makan es cream susu dulu. Laaa dingin-dingin makan es cream? Yah namanya juga anak kecil, kalau Si Kennes ngamuk, bisa-bisa aku nggendong sampek omah!!!!!!!! Peace, peace, peace, 100x.
dsc_0578

Iya, to. Pulangnya minta gendong……….
img_0143

Nagoya, 2 Maret 2009

Roni Cah Panjer

Ludruk Bintang Warna

Agustus 2008, Fira pulang ke Indonesia selama lebih dari satu bulan. Ketika itu Fira sempat belajar tari remo kepada pimpinan ludruk Bhintang Warna Sidoarjo, Cak Hasan Basori.

Ini gambar Fira setelah dirias.
dsc009833

Ini proses riasnya. Wajahnya dirias dengan kumis agar kelihatan gagah dan macho.
dsc00969

Mencoba pakaian
dsc00980

Latihan tari berkali-kali
dsc00990

Fira foto bareng dengan Cak Hasan dan istrinya
dsc00998

Cak Hasan menunjukkan tari remonya. Katanya tari ini sudah disederhanakan sedemikian rupa untuk anak-anak. Videonya lihat sini.

Fira beberapa kali tampil tari remo diantaranya tampil di acara Lomba Pidato Bahasa Indonesia di Nanzan University Nagoya pada Noverber 2009. Fira doki-doki shita, jadi tidak bisa tampil bagus. Videonya klik di sini.

Berikutnya ini penampilan Fira di Festival Indonesia Nagoya. Klik sini ya.

Homeless

“Haradasan, kenapa di tengah kemakmuran Jepang ini masih terdapat para homeless, orang yang tidak punya tempat tinggal?” tanyaku pada teman yang sedang asyik melahap saradanya.

Baru saja kita melewati bawah jalan layang dan bertemu dengan seorang homeless yang masih gagah dan menurutku tidak jelek. Tak urung dia meletakkan sumpitnya dan geleng-geleng kepala tanda dia harus berpikir untuk menjawab pertanyaanku. Selama empat tahun aku berada di Jepang aku merasa bahwa negeri ini makmur. Makmur dalam arti melimpah makanan dan melimpah pekerjaan. Kalau ada pemuda Jepang yang kelaparan itu sih kebangeten. Kalau ada pengangguran yang luntang-lantung itu sih keterlaluan.

“Bukankah banyak sekali baito di sekitar sini, kenapa mereka tidak baito saja? atau, kawin saja, toh dia masih gagah dan ganteng” aku menambahkan pertanyaanku.

Aku tahu, temanku itu tidak menjawab karena terlalu jauh berpikirnya. Mungkin dalam pikirannya melayang kepada krisis Jepang sebagai akibat dari krisis keuangan yang terjadi di Amerika.

“Bahkan di restoran tempat kita makan ini sedang membuka lowongan baito.” aku membuka pikirannya agar tidak terlalu jauh melayang.

“Iya, ya.” jawabnya singkat. “

Di toko-toko kita lewat tadi juga banyak lowongan” tambahnya lagi.

Saya tahu, masalahnya pasti tidak semudah seperti yang ada dalam bayanganku tadi. Pikiranku melayang lagi. Di negara ini, mahasiswa tingkat empat universitas sudah disibukkan dengan shukatsu, semacam training kerja. Tidak hanya satu tempat, bisa beberapa tempat. Kebanyakan dari mereka –mungkin malah mendekati 100%, sebelum lulus dapat hampir dipastikan bahwa mereka sudah mendapat kerja. Jadi, jarang ada pengangguran. Kalaupun ada paling itu sebuah kesengajaan. Kalaupun tidak mendapat pekerjaan kan bisa baito. Ah, mungkin itu hanya pikiranku saja yang mencari gampangnya. Tapi lihat, di negaraku dapat dihitung dengan jari mahasiswa yang begitu lulus langsung mendapat kerja. Mau shukatsu? Shukatsu di mana? Bahkan ketika mahasiswapun mereka dapat memilih baito sesuai yang diinginkan. Tapi di negaraku, jarang ada mahasiswa yang baito. Bukannya males atau tidak mau, tidak ada apa yang mau dibaitoi.

dsc01002blog Fira bersama Kennes, Dafa, dan Ian

“Ronisan, mereka itu pemalas” jawabnya membuyarkan lamunanku. “Belum lagi mereka yang mendapat bantuan dari pemerintah sebesar 150 ribu yen, tambah malas lagi”.

“150 ribu yen? Itu kurang lebih setara dengan 18 juta rupiah” aku terheran-heran.

“Iya, tapi mereka yang mendapat tunjangan dari pemerintah itu ada syaratnya. diantaranya kehilangan hak dalam pemilu.”

“Wah kalau mendapat tunjangan sejumlah itu, kehilangan hak dalam pemilupun aku mau…..” jawabku berkelakar.

“Di negara ini fakir miskin betul-betul dilindungi oleh negara” gumanku dalam hati. Aku berandai-andai jika negaraku sudah seperti Jepang ini betapa makmurnya bangsaku.

“Tapi, niat baik pemerintah sering disalahgunakan. Ada di antara mereka para homeless itu yang kaya-kaya, bahkan punya mobil” jelasnya. “Homeless ini hanya sebagai kedok saja, sebagai profesi. Agar mendapat tunjangan terus.”

Wah, ternyata kebijakan pemerintahpun di sini juga ada yang menyalahgunakan ha ha ha. Aku masih membayangkan, seandainya di Indonesia kebijakan dilaksanakan seperti di Jepang: fakir miskin, orang tua, dan anak-anak terlantar dilindungi oleh negara seperti diamanatkan oleh UU betapa makmurnya rakyat dari negara yang namanya Indonesia.

Nagoya, 31 Januari 2009

Roni

Sampah dan SKS

Beginilah salah satu cara Jepang mendidik mahasiswanya. Memungut sampahpun mendapatkan SKS.
Seperti kita ketahui Jepang adalah bangsa yang cukup memberikan perhatian pada permasalahan sampah. Sehingga kalau kita tengok kota-kota di Jepang keadaannya cukup bersih. Masyarakat ikut ambil bagian secara aktif dalam menggalakkan kebersihan ini. Di mulai dari sampah keluarga, sudah dipilah-pilah sedemikian rupa, mana sampah bakar (yang dapat dibakar), mana sampah yang tidak bisa dibakar, mana sampah besar (memang ukurannya besar seperti bed, almari, dll), mana sampah elektronik dsb. Membuangnya pun sudah ditentukan harinya. Bahkan untuk sampah besar dan elektronik dikenakan biaya untuk membuangnya.
Yang penting adalah bahwa mulai kecil anak-anak Jepang sudah dikenalkan (bahkan secara ketat) untuk memilah-milah sampah itu mulai di dalam keluarganya masing-masing. Bahkan untuk tujuan mendidik, baru-baru ini di salah satu televisi ditayangkan sebuah kelas perkuliahan mata kuliah ekonomi di salah satu universitas swasta di Nagoya yang mewajibkan mahasiswanya untuk memungut sampah di sekitar kampus. Dan “hebat”nya kegiatan ini dihargai dengan ganjaran SKS. Artinya, kegiatan memungut sampah itu termasuk dalam mata kuliah ekonomi. Di televisi itu ditayangkan setelah perkuliahan di kelas selama kurang lebih 20 menit, selebihnya waktu yang tersisa digunakan secara bersama-sama memunguti sampah yang tempatnya sudah ditentukan, tentunya di sekitar kampus.
Weleh-weleh…… gotong royong membersihkan sampah mendapat SKS. Bisa dibayangkan kalau ini terjadi di Indonesia. Mana mungkin?

Nagoya, 13 Mei 2008

Beragama yang Tidak Korupsi

Ini tulisan tentang Cak Nun beberapa tahun yang lalu. Isinya sangat bagus sekali untuk perenungan, setidaknya untuk saya pribadi. Semoga juga bermanfaat bagi anda yang kebetulan membacanya.

Emha Ainun Nadjib: BERAGAMA YANG TIDAK KORUPSI

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
“Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”
Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.”

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang,
tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

Hormatilah Aku, Karena Aku Puasa!

Belanda
Hormatilah Aku, Karena Aku Puasa! Mungkin itulah kata hatiku tadi siang. Yah persis…….perasaan itu persis seperti ketika aku berpuasa ramadhan di Indonesia. Aku puasa maka kamu yang tidak puasa harus menghormati aku. Apalagi (mohon maaf) kamu yang non Islam…… “harus” sekali lagi harus menghormati aku.
Huh….hormat? Ini di Jepang Bung! Siapa yang akan menghormati kamu kalau puasa, siapa yang tahu kalau kamu puasa. Bahkan mungkin kalau kamu menceritakan bahwa kamu puasa kepada orang Jepang, dia akan bertanya apa itu puasa. Dan kamu berusaha untuk menjelaskan dengan bangganya bahwa puasa itu tidak boleh makan, minum, mulai terbit fajar sampai bla…bla….bla. Dan paling-paling orang Jepang itu akan memuji “sugoi desune (hebat ya)”, dan tiap ketemu mungkin akan memberi simpati “daijobu desuka (kamu ndak apa-apa hari ini?)”.
Huh…. Orang Jepang ini mulai memuakkan. Betapa aku dengan bangganya menceritakan kesakralan puasa, reaksinya hanya seperti itu. “Asem iki!”, mungkin begitu kata hatiku meminjam ungkapan yang sering digunakan pelawak Topan.
“Aku lagi puasa tolong dong aku dihormat” Aku berusaha menghilangkan perasaan itu, tapi bagaimanapun sulit untuk menghapusnya sampai bersih di hatiku. Aku sadar betul bahwa kalau perasaan itu ada dihatiku maka aku termasuk golongan orang yang sombong. Dan kesombongan itulah yang akan melumatkan nilai pahala puasaku. Bagaimana mungkin aku akan puasa kalau tidak ada pahala?
Ha ha ha rasakno dhewe saiki. Salahnya sendiri membawa-bawa urusanmu dengan Tuhanmu ke urusanmu dengan sesamamu. Ya kesombongan itu jadinya.
Kamu di Jepang Bung! Jarang ada orang Jepang tahu akan puasa. Warung buka di mana-mana, tidak ada adzan tidak ada ronda, kamu harus menandai sendiri waktu buka, waktu sahur. Aku ingat betul suasana ramadhan di kampoengku Tulungagung sana. Sholat ashar yang biasanya di rumah, aku usahakan berjamaah di Moshola. Itu semata-mata keinginanku untuk ikut memukul bedug. Yah…… setelah sholat ashar berjamaah dan atas suruhan Kyai Atim, kami memukul bedug bergantian dengan teman-teman. Memukulnyapun tidak sembarangan, harus pakai irama. Mendengarkan suara bedug seperti itu, terasa hati ini bergetar. Seolah kami sedang menyambut anak dan istri datang setelah sekian lama berpisah. Belum lagi malamnya kami janjian dengan teman-teman tidur di Moshola untuk ronda….. yah membangunkan orang-orang kampong untuk makan sahur. Dan dengan demikian mulai besok kami pun harus ikut memulai puasa.
Tapi ini Jepang Bung! Mana ada Bedug, mana ada ronda. Di Indonesia kamu selalu diingatkan oleh lingkunganmu bahwa kamu sedang puasa. Warung-warung yang biasanya terbuka ditutup kain, karaoke diskotik ditutup atau dibatasi waktunya, apalagi panti pijat dan lokalisasi sama sekali tidak diijinkan beroperasi. Belum lagi ada kelompok tertentu yang mengobrak-ngabrik warung makan di pinggir jalan hanya karena tidak menutup warungnya dengan kain. Apa untungnya dilakukan itu. Yah mungkin terselip jawaban seperti: “hormatilah orang yang sedang puasa”, “hormatilah orang yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan”, dan kalimat-kalimat sejenis lainnya. Itu kesombongan Bung!
Tapi ini di Jepang…….. hal-hal seperti itu tidak ada. Prinsipnya hiruk pikuk kehidupan tidak ada perubahan. Baik bulan ramadhan dan bulan-bulan yang lain….. sama.
Aku tersadar, bahwa puasaku hanya semata-mata urusanku dengan “Yang di atas sana”. Kalaupun berurusan dengan sesama…. Itupun hanya dengan istri dan anakku, tidak lebih. Aku berpuasa untuk diriku sendiri, kalaupun dengan sesama paling-paling hanya untuk mengajari anakku latihan puasa. Kamu minta lingkungan Jepangmu untuk menghormatimu. Mana mungkin kau dapatkan.
Di sinilah perasaan “gila hormat” itu mencapai titik terendah, dan Insya Alloh kesombongan itu hilang. Nol……. yah nolllllllll. Di sinilah aku dapat melakukan puasa yang sesungguhnya hanya semata-mata demi “Pengeranku”. Tanpa ada yang mengomando, tanpa ada warung yang tertutup, tanpa ada karaoke dan diskotik tutup, apalagi ada sekelompok orang yang mengobrak-ngabrik warung yang justru “merendahkan” agamaku…….. semuanya seperti biasanya, tidak ada perubahan. “Puasamu ini hanyalah urusanmu dengan Pengeranmu”, begitulah Kang Lamijo menasehatiku.
Yang berbeda hanyalah suasana perasaanku, di sana ada sinar-sinar cerah yang sedang merajut hubungan baiknya kembali dengan yang “Mbau rekso urip”. Yah… hubungan yang mungkin sebelum ramadhan terkoyak oleh lingkungan yang memang tak terkondisikan.

Nagoya, Ramadhan 2007

Huruf kanji…suliiiiit?

Dalam setiap pembelajaran bahasa Asing, tentu saja akan ditemukan kesulitan-kesulitan, yang mau tidak mau harus mau belajar karakteristik yang dimiliki oleh bahasa tujuan. Demikian juga kita sebagai orang asing yang mempelajari bahasa Jepang akan banyak menemui kesulitan; entah karena pelafalannya yang susah, konstruksinya yang memang beda dengan bahasa Indonesia, tapi yang paling banyak dikeluhkan tentunya keharusan belajar kanji. Tanpa belajar kanji terasa tidak sempurna bahasa Jepangnya, sama halnya belajar bahasa Arab tanpa menggunakan huruf arab.
p1020513.jpg
Mengenai jumlah kanji ada “banyak”, ada yang mengatakan 50 ribu, 15 ribu, dua ribu, dan sebagainya. Konon menurut penelitian kanji yang digunakan di koran Jepang berjumlah 3213 buah dan di majalah Jepang 3328 buah. Ada juga penelitian lain yang mengatakan ada 4520 buah kanji. Sebenarnya berapa sih jumlah kanji yang tepat? Jawabnya tidak ada yang tepat, karena setiap hasil penelitian mengatakan jumlah yang berbeda.
Belajar kanji memang repot, tapi bisa dimulai dari kanji yang sering keluar baik di koran atau majalah. Dengan mempelajari kanji yang sering keluar tersebut kita akan dapat “memahami” sekian persen isi kalimat-kalimat yang tertulis dengan media kanji dan kana. Konon menurut penelitian 10 kanji yang sering keluar di koran dan majalah adalah sebagai berikut.
Koran 一 人 二 大 日 出 三 十 子 中
Majalah 日 一 十 二 大 人 三 会 国 年

Sebenarnya pada batas-batas tertentu berapa buah kanji yang kita butuhkan untuk bisa memahami tulisan bahasa Jepang yang ada di koran atau majalah Jepang? Atau pertanyaan ini kita balik: kalau kita bisa memahami sekian buah kanji kita bisa memahami berapa persen dari koran atau majalah Jepang? Menurut penelitian, jika kita bisa kanji 10 buah saja seperti tertera di atas, kita bisa memahami 8,8 ~ 10,6 % isi koran atau majalah. Jika kita bisa kanji 200 buah, kita bisa paham isi koran atau majalah sekitar 52.0 ~ 56,1 %, dan jangan terkejut jika kita menguasai 1000 buah kanji kita bisa paham isi koran dan majalah sekitar 90,0 ~ 93,9 %. Melihat angka-angka tersebut kayaknya kok mudah sekali ya. Tapi jangan lupa, itu hanya persoalan jumlah kanji. Kalau belajar bahasa Jepang kan tidak hanya kanji saja kan. Kita harus belajar tatabahasanya pula. Prosentasi pemahaman terhadap isi koran dan majalah dan perkiraan jumlah kanji yang perlu dikuasai adalah sebagai berikut.

………. 10 50 100 200 500 1000 1500 2000 2500 3000
Koran 10,6 27,7 40,2 56,1 79,4 93,9 98,4 99,6 99,9 99,9
Majalah 8,8 25,5 37,1 52,0 74,5 90,0 96,0 98,6 99,5 99,9

Dengan melihat table tersebut di atas, mungkin ada yang beranggapan bahwa, kita sebagai orang asing cukuplah kiranya jika paham kanji sekitar 1000 buah. Kan bisa memahami 90% lebih isi koran dan majalah Jepang. Dan dengan jumlah kanji itu pula kita dapat lulus Ujian Kemampuan Bahasa Jepang level 2, karena memang jumlah sekian itu yang dipersyaratkan. Yah, itu sah-sah saja. Tapi kalau hanya bisa 1000 buah kanji itu berarti kemampuan kanji kita hanya sama dengan murid yang baru lulus SD di Jepang. Sedangkan untuk SMA diharapkan dapat memahami kanji yang ada di “Jooyoo Kanjihyoo” yang berjumlah 1945.
Ada lagi yang menarik: kenapa kanji di Jepang tidak mungkin dihapus/ditiadakan? Konon menurut hasil penelitian, seorang Jepang yang melintas lewat jalan tol di suruh memahami isi tulisan, sekali lagi “memahami” tulisan, bukan membaca. Hasilnya adalah mereka bisa memahami tulisan Jepang dengan huruf kanji lebih cepat dari pada huruf kana (hiragana dan katakana) dan huruf Romaji (latin). Dengan tulisan kanji 豊中rata-rata mereka dapat memahami tulisan dalam jangka waktu 0,06 detik, dengan hiragana とよなか 0,75 detik, dan dengan Romaji TOYONAKA 1,32 detik. Dengan demikian jelas sekali bahwa kanji lebih mudah dimengerti daripada dua huruf yang lainnya. Ini bisa dimaklumi, karena mereka mulai SD belajar hiragana dulu, disusul katakana, setelah itu hamper tiap hari “makan” kanji, dan huruf Romaji mulai dipelajari sekitar mulai kelas empat SD.
Untuk adik-adik mahasiswa yang mengambil bidang S1 bahasa Jepang di tanah air, usahakan dua tahun pertama minimal “harus” bisa menguasai 1000 buah kanji. Usahakan belajar mandiri, tidak menggantungkan perkuliahan di kelas. Kalau tidak, sulit kiranya untuk bisa lolos level dua. Selebihnya bisa dipelajari pada tahun ketiga dan keempat. “Masa emas” belajar kanji ada di tahun kedua dan ketiga. Jangan lewatkan masa itu. Dan untuk belajar kanji, jangan hanya dibayangkan, tapi tangan harus bergerak, mencoret dan mencoret. Dalam televise NHK pernah ditayangkan, ada dua kelompok yang belajar kanji dengan cara yang berbeda. Kelompok yang pertama hanya diajari dan disuruh belajar dengan hanya membaca dan membayangkan. Kelompok kedua diajari dan disuruh membaca sambil mencoret-coret kanji yang menjadi objek pembelajaran. Hasilnya bisa ditebak, kelompok yang dengan mencoret-coret itulah yang hasilnya luar biasa.

Aku Terpana

Doozo, suwatte kudasai” kata seorang laki-laki paroh baya kepadaku.

“Arigatoo gozaimasu….. tsugi no eki ni orimasu kara….” jawabku cepat sambil membungkuk-mbukkukkan badanku.

Nemuttai Kennes
Ya… ternyata laki-laki Jepang ini perduli dengan kanan kirinya. Mungkin dia tidak tega melihatku sempoyongan di dalam chikatetsu yang sedang melaju sambil menggendong anakku yang kecil, Kennes yang tengah tidur didekapanku. Atau karena aku orang asing?

Dia tetap berdiri memberi kesempatan itu. Saya katakan lagi permohonan maaf “sumimasen”. Namun dia tidak kembali duduk di tempatnya.

Aku sempat terpana dengan tawaran tempat duduk itu. Tapi aku merasa tidak perlu mengorbankan kesempatan dia untuk duduk hanya untuk aku yang 4 menit lagi turun di Sakurayama-eki.

Aku masih teringat betapa pongahnya pemuda Jepang yang membiarkan seorang ibu tua berdiri di hadapannya sambil sempoyongan pada suatu hari, sementara dia sendiri duduk dengan santainya. Yah banyak yang merasakan (terutama di kereta) bahwa orang Jepang sangat dingin dan cuek dengan lingkungannya. Banyak cewek-cewek yang dandan dengan cueknya di kereta, lipenan, bingung ngatur idepe, ngilo (masih untung ndak membawa cermin besar), ngerol rambut, bahkan kalau pagi sarapan di kereta. Untung belum pernah kulihat ada yang sikat gigi di dalam kereta he he he. Looo tapi ada juga yang –mohon maaf– ngesun pacare di dalam kereta….. di samping kanan-kiri penumpang yang penuh sesak. Jan….. dasar tenan kok!.

Masih ada lagi, pakaiane cowok-cewek Jepang semua seperti artis. Iku isih mending. Laa onok cewek sing nggawe celana pendek-ndek, atau rok yang super mini-ni. Padahal suhu di luar sekarang sekitar 8 derajat. Aku pernah ngomong karo ojobku ketika naik kereta bareng “Jo! Nyang kene okeh wong podo shodaqoh yo”. “Endi?” ojobku penasaran. “La iku cewek ayu-ayu podo ngawe rok mini lan suwal endheg mamerke daginge kuwi”. Ojobku ngakak. Wah yen nok surobojo bola-bali disuiti uwong. Ora mung iku okeh sing podo komentar. Yo untung wae iki nok Jepang, yang tentu saja ukuran moralnya beda dengan kita. Atau jangan-jangan dengan gaya pakaian kita, justru kita yang dianggap primitif menurut ukuran moral mereka he he he.

“Pak, hampir mau turun ya” suara anakku sing gedhe, Fira.

“Iya Nduk! Sebentar lagi turun” jawabku sak keneke.

Tapi memang repot juga, aku pernah menawarkan tempat duduk kepada seorang ibu tua (kelihatan sehat) tapi ditolaknya, dan aku merasa malu untuk kembali duduk, sementara dia sendiri tetap berdiri. Bahkan orang-orang Jepang di kanan-kiriku tidak ada yang berani duduk di tempat yang aku tinggalkan. Gengsi? “Mottainai na” pikirku. Mungkin perasaan ini juga yang tengah terjadi dengan lelaki paruh baya yang menawarkan tempat duduk itu. Aku menjadi merasa berdosa dengan dia “Gomen ne,…. Otoosan”. Secara tidak langsung dengan menolak tawarannya, aku telah “mempermalukan” dia di tempat itu.

“Mamonaku Sakurayama desu………..”

Aku terhentak manakala beberapa detik lagi harus turun di Sakurayama-eki. Aku katakan lagi “arigatoo gozaimasu” sebelum aku beranjak keluar kereta sambil tentu saja dengan memasang muka paling manis menurutku, agar “permohonan maaf” dalam hatiku tersampaikan.