Jepang Kini (4/4): Perawat

Melanjutkan pembicaraan tentang permasalahan yang menjadi PR bagi Jepang.

Jepang setelah perang dunia ke 2, akhirnya dalam istilah pewayangan “masuk kotak”. Beberapa tahun setelah itu, mau ngerjain apa masyarakatnya. La wong, wis kalah perang. Pertahanan ke luar diurusi oleh militer Amerika. Ya…. akibatnya “sering tidur” di rumah, yang menyebabkan “mala petaka” (mosok ginian kok mala petaka he he he) banyak anak: booming anak. Akibatnya jumlah penduduk Jepang meningkat tajam. Dan anak-anak yang lahir  setelah perang itu sekarang sudah tua menjadi manula dan sakit-sakitan, sehingga butuh perawatan.

Sementara itu akhir-akhir ini pemuda Jepang sekarang jumlahnya sedikit akibat dari shoshika 少子化, kecilnya jumlah kelahiran anak yang terjadi 20 tahun terakhir. Jumlah manula Jepang data 2007 adalah 4.530.000 orang. Sedangkan perawat yang khusus mengurusi manula ini berjumlah 1.250.000 orang. Dan, akibat dari apa saya ndak tahu, satu orang perawat dari setiap empat orang perawat mengundurkan diri tiap tahunnya. Padahal jumlah ideal perawat khusus manula ini adalah 2.500.000 orang.

Wah repot juga. Apalagi gaji sebagai perawat manula ini tidak menjanjikan. Jika rata-rata seorang sarariman menerima bayaran 3 juta yen per tahun atau tiap bulannya 250.000 yen (sekitar 25 juta rupiah), maka perawat khusus untuk manula ini hanya mendapatkan 1.9 juta yen atau kurang dari 160.000 yen (sekitar 16 juta rupiah). Dari gaji ini, jika untuk biaya apartemen 50 ribu yen saja sisanya 110 ribu yen untuk keperluan yang lainnya, ya makan, telpon, air, gas, pacaran, dsb. Mana cukup? Kapan nabungnya untuk mengkredit rumah? Mungkin inilah yang mengakibatkan banyak perawat yang mengundurkan diri.

Akhir-akhir ini didatangkan perawat dari Indonesia. Bukannya tidak ada masalah. Perawat Indonesia itu harus mempelajari bahasa Jepang. Padahal untuk menjadi perawat di Jepang harus mendapatkan sertifikat perawat, standar Jepang. Dan, untuk lulus agar mendapatkan sertifikat itu bukan perkara gampang. Katanya hanya beberapa orang saja yang diperkirakan bisa lulus. Belum lagi masalah, Jepang harus membayar ke organisasi internasional apa begitu (yang saya tidak paham organisasi apa itu) terkait datangnya perawat ke Jepang ini. Padahal untuk mengurangi pengangguran di Indonesia, saya berharap Jepang banyak mengambil perawat dari Indonesia he he he. Walaupun pemikiran saya itu juga sebenarnya bermasalah. La bagaimana, yang didatangkan ke Jepang itu kan perawat berpengalaman di Indonesia. Artinya perawat yang bisa mendaftar ikut seleksi ke Jepang harus punya pengalaman menjadi perawat di Indonesia. La terus kalau perawat berpengalaman pada ke Jepang, yang di Indonesia kan hanya kebagian sisa perawat-perawat yang baru lulus, yang harus mengajari macam-macam sejak awal.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Jepang Kini (3/4): Pangkalan Militer Amerika

Melanjutkan perbincangan di TV Jepang.

Setelah Jepang kalah pada perang dunia ke 2, maka semua senjata yang dimiliki oleh militer Jepang dilucuti. Dan Jepang harus menanda-tangani perjanjian tentang tidak diperbolehkannya memiliki militer. Oleh karena itu prajurit Jepang sekarang dinamakan pasukan bela diri. Tapi masak sebuah negara tidak memiliki militer, ndak mungkin kan. Dalam perjanjian itu Amerika sebagai pemenang perang juga memasukkan poin bahwa untuk melindungi Jepang, Amerika akan membuat pangkalan militer di Jepang.

Ada berapa pangkalan militer yang ada di Jepang? Ada 85 tempat pangkalan militer di Jepang. Dari jumlah itu 33 buah berada di Okinawa. Bisa dibayangkan bisingnya Okinawa oleh suara jet-jet tempur Amerika. Konon untuk menyuplay peralatan perang Amerika melawan Vietnam waktu itu juga menggunakan landasan militer di Okinawa ini.

Ada berapa sih militer Amerika di pangkalan militernya di Jepang? ada sekitar 9.800 orang. Kalau ditambah dengan keluarganya menjadi sekitar 12.000 orang. Bisa dibayangkan, ini berapa desa dengan jumlah penduduk sekian itu. Jadinya memang di dalam area pangkalan itu dibangun sekolah, supermarket, gedung olah raga, tempat bowling, dsb untuk “menghidupi” kebutuhan prajuritnya. Uang yang digunakan untuk jual-beli bukan yen melainkan dolar. Jadi, suasananya kayak kota di Amerikalah. Hanya saja sipil tentu saja tidak boleh masuk di area itu, kecuali yang memang bekerja misalnya di supermarket yang ada di pangkalan itu.

Jet-jet tempur supercepat yang dimiliki Amerika tiap hari berterbangan, entah dari Amerika, atau Hawai. Dari Okinawa sampai Hawai hanya ditempuh dengan 2,5 jam. Bagaimana cepatnya ya. Jadi bisa dibayangkan jika Korea Utara menyerang Jepang, maka dalam waktu tidak lebih dari satu jam, pesawat-pesawat tempur Amerika sudah bisa menyentuh bagian Jepang yang dekat dengan negara itu. Weleh… weleh…. weleh.

Setelah terjadi pemerkosaan terhadap cewek Jepang oleh tentara Amerika, warga Jepang Okinawa berharap agar pangkalan militer itu secepatnya dipindah dari Jepang. Tapi apakah bisa secepat itu? Mestinya kan ada perjanjiannya sampai kapan, terus biayanya kalau pindah bagaimana dsb. Embuhlah, begitu saja yang saya tangkap tentang pembicaraan masalah Pangkalan Militer di Amerika yang ditayangkan di chanel 11 TV Jepang, pada tanggal 8 September 2009.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Jepang Kini (2/4): Kemandirian Pangan

Melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

Kemandirian pangan di Jepang itu bagaimana sih? Kemandirian pangan itu sendiri konon menyangkut semua hal tentang produksi pangan yang dilakukan oleh Jepang. Jepang terkenal dengan negara yang sangat proteksi terhadap beras dalam negerinya. (Tapi harus diakui bahwa beras Jepang itu rasanya memang jempolan he he he).

Kalau saya pergi ke supermarket, sering saya dapati sayur murah, ikan murah, daging murah…… eh ternyata semuanya impor. Kalau sayur, ikan, daging, dll yang mahal…. itu pasti produksi dalam negeri Jepang. Ternyata kemandirian (swasembada) pangan Jepang itu hanya 41%. Artinya barang-barang yang berhubungan dengan makanan di pasar Jepang itu yang produksi dalam negeri Jepang hanya 41%. Wah…. kalau Jepang tidak baik-baik dengan negara asal impor bahan makan bisa bahaya, misalnya terjadi perang dsb.

Di ilustrasikan bahwa mie Jepang itu kemandirian pangannya hanya 23%. La bagaimana lagi, wong gandumnya impor juga. Hanya memang betul mengolahnya menjadi mie di Jepang, tapi bahannya kan dari luar. Apalagi udang, hanya 5%. Di situ dikemukakan bahwa bahan dari semangkuk tempura udang, yang berasal dari dalam negeri Jepang hanya 26%-nya. Terus diandaikan kalau makan siang hanya mengandalkan produksi dalam negeri maka hanya terdiri dari nasi, ikan kecil, dan ubi. Ini sekali makan ya. Kalau yang dimakan seperti itu katanya sama dengan makanan yang disajikan di restoran-restoran jaman Edo, weleh… weleh… weleh.

Masalah beras di Jepang juga menjadi masalah yang cukup pelik. Konon masalah pertanian di negara manapun selalu mendapatkan perhatian nomor satu dari pemerintahnya. Di Indonesia bagaimana ya? La wong jadi petani di Indonesia tidak menjanjikan he he he. Enaknya jadi petani di Jepang. La gimana, harga beras di Jepang itu adalah yang tertinggi di Jepang, rata-rata 10 kali lipat dari harga beras di negara lain.

Konon ketika jaman perang, pemerintah menyuruh masyarakatnya untuk menanam padi sebanyak-banyaknya. Dan semua padi itu akan dibeli oleh pemerintah. Yah tahu sendirilah, untuk menyokong perang. Kalau prajuritnya maju perang tanpa makan mana bisa menang? Tapi setelah PD II Jepang tidak hanya makan beras. Masuklah makanan-makanan Eropa yang sama sekali tidak menyentuh bahan dari beras. Karena kelebihan beras, dan untuk menjaga harga beras agar tetap stabil (artinya tetap mahal, kasihan kan petaninya kalau berasnya dijual murah) maka pemerintah mengintruksikan kepada sebagian petani untuk tidak menanam padi. Dan sebagai gantinya pemerintah membayar ganti rugi kepada petani padi yang jumlahnya per tahun mencapai 2000 oku yen. Jumlah yang tidak sedikit. Enak to menjadi petani di Jepang?

Tapi sekarang banyak pemuda Jepang yang tidak mau jadi petani, maunya jadi sarariman saja. Ini menjadi permasalahan tersendiri di Jepang. Terus akibatnya, Jepang mengimpor beras dari luar. Tapi untuk tetap menjaga harga beras dalam negeri, Jepang mengenakan pajak masuk yang sangat tinggi. Dengan pajak masuk tinggi, maka beras imporpun harganya juga tinggi to. Belum lagi biaya gudangnya yang juga perlu uang untuk penyimpanan. Nah, masyarakat tinggal pilih beras yang mana? Dengan harga yang relatif sama, tapi beras Jepang kan lebih enak to.

Konon yang bisa mencapai kemandirian pangan mencapai 100% itu Perancis. Makanya Indonesia belajar ke Perancis saja agar bisa swasembada pangan.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Jepang Kini (1/4): Penggratisan Jalan Tol di Jepang

Tadi melihat TV di chanel 11. Dibahas permasalahan-permasalahan Jepang mendasar dalam hubungannya dengan kemenangan Partai Demokrat, partai yang didominasi oleh kaum muda Jepang. Ada empat permasalahan mendasar yang dibahas dalam bincang santai di TV itu yaitu penggratisan jalan tol, kemandirian pangan, pangkalan militer Amerika, dan perawat. Semuanya ini dibahas dalam rangka PR untuk pemerintahan baru.

Empat permasalahan ini akan dikemukakan di sini dalam empat judul. Semoga saja bahasa Jepang saya tidak keliru dalam menangkap isi perbincangan itu. Kesan pertama tentang acara TV itu adalah betapa permasalahan yang dibahas itu sulit tapi penyajiannya begitu sederhana. Bahkan orang-orang yang diajak ngobrol itu adalah orang awam yang tidak tahu permasalahan berat yang dihadapi Jepang. Saya berharap TV Indonesia bisa membuat program obrolan diselingi penyajian data yang amat sederhana, sehingga orang awampun bisa mengerti permasalahan yang sedang dibahas.

Dalam tulisan pendek ini akan mengulas beberapa poin yang sempat saya catat tentang penggratisan jalan tol di Jepang. Rupanya penggratisan tol ini menjadi program utama yang dikemukakan oleh partai Demokrat ketika kampanye.

Pembangunan jalan tol di Jepang sudah dimulai pada tahun 1956. Biaya pembangunan diperoleh dari Bank Dunia. Jalan tol pertama yang dibangun itu adalah Tomei (Tokyo-Nagoya) dan Meishin (Nagoya-Osaka???). Kenapa ketika lewat jalan tol harus membayar, padahal kalau lewat jalan biasa tanpa bayar. Tentu saja jawaban sederhananya adalah untuk membiaya pembangunan jalan tol itu. Betul. Jepang harus mengembalikan pinjaman Bank Dunia untuk pembangunan tol tersebut.

Sebenarnya pembayaran hutang Jepang kepada Bank Dunia sudah lunas pada tahun 1990, tapi kenapa sampai tahun ini kalau masuk tol masih harus tetap membayar? Ternyata kebijakan Jepang waktu itu adalah uang tol setelah tahun 1990 itu digunakan untuk membangun tol di seluruh Jepang. Dan tentu saja dengan uang tol itu tidak dapat untuk membangun tol seluruh Jepang, akibatnya Jepang masih harus mengutang. Mengutang kepada siapa? Kepada Masyarakat Jepang sendiri. Uang mana yang diutang untuk membangun tol itu. Jawabannya adalah uang “nganggur” yang ada di Bank Pos (yubin chokin). Hutang Jepang saat ini kepada masyarakat Jepang adalah 31 oku yen. 31 oku yen itu berapa nolnya…. embuh itungen dewe. (Uang yang ada di Bank Pos Jepang keseluruhan adalah 304 oku yen).

Konon utang untuk pembangunan tol di seluruh Jepang ini, pemerintah baru akan bisa melunasinya sampai tahun 2050. Waduh suwene rek.

La terus. Katanya jalan tol oleh partai demokrat akan digratiskan, mbayarnya pakai apa? Ya Apalagi kalau bukan dari pajak. Logikanya di mana? Kalau jalan tol digratiskan, biaya pengangkutan (yang tentu saja memakai jasa jalan tol) akan turun. Kalau biaya angkut turun otomatis barang-barang akan murah. Artinya, sandang pangan akan amat terjangkau oleh masyarakat Jepang. Tapi mekanismenya bagaimana?  Embuh, yang jelas ndak dibahas dalam perbincangan itu. Kita disuruh melihat saja bagaimana pemerintahan baru Jepang (by Demokrat) akan mengelola masalah penggratisan jalan tol ini.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Blog dan Link

Blog Pak Suyatno Bahasa Indonesia: Gardu Guru

Blog Anto Satriyo Nugroho: Corat-coret Anto

Blog Mbak Murni Ramli: Berguru

Dokumen untuk perpanjangan visa dll:  Imigrasi

Kiyomizudera

Hari ini baru saja main ke kota tua di Jepang: Kyoto. Seperti halnya Yogyakarta di Indonesia, kota ini memang eksotik. Sudah sedikitnya lima kali ke Kyota, dan itu tidak membuatku bosan. Kali ini pergi ketika liburan golden week di Jepang. Untuk menghindari macet keluargaku dan keluarga seorang teman Jepang berangkat pagi-pagi, jam lima pagi. Si Kennes masih ngantuk ketika berangkat, dan benar saja begitu naik mobil anak-anak langsung tidur: Si Fira, Toshikun, dan Reinachan, termasuk Soessan. Aku harus tetap terbangun untuk menemani Kamiyasan yang nyopir, dengan ngobrol ke sana kemari.

Sampai di Kyoto masih pagi sekitar jam tujuh, tapi parkir mobil pemerintah terdekat dengan Kiyomizudera sudah penuh. Terpaksa kita pakai parkir umum, yah apa boleh buat, walaupun sedikit lebih mahal tapi irit tenaga.

Kiyomizudera. Saya mengunjungi kuil ini sudah yang ketiga kalinya, dan tetap tidak membuatku bosan. Kuil ini dibangun dilereng bukit dengan tiang penyangga puluhan bahkan mungkin mungkin ratusan kayu sebesar pohon kelapa.

DSC_0101blok1

DSC_0023blok2

Foto Kiyomizudera dari beberapa sudut sebagai berikut.

DSC_0094blok4

DSC_0109blok5

IMG_0841blok6

Dan yang juga terkenal di kuil kiyomizudera adalah pancuran di bawah ini. Cukup lama antriannya untuk berjuang hanya sekedar mendekat dan dapat menyentuh air pancuran itu. Aku dan kedua anakku kusempatkan juga sekedar cuci tangan dan incip airnya. Gayung ungtuk mengambil air jumlahnya banyak, dan sekali digunakan langsung dimasukkan lagi ke kotak ultra violet untuk menjaga kesterilannya.

DSC_0026blok8

IMG_0854blok7

Setelah cukup lama di kuil Kiyomizudera, perjalanan dilanjutkan ke Tokyo Studio Park. Di tempat ini di setting sedemikian rupa layaknya rumah perkotaan jaman dulu di Jepang. Rumah-rumah papan dari kayu diatur sangat rapi. Sesuai dengan namanya Kyoto Studio Park pada awalnya (dan sampai sekarang) dipergunakan untuk lokasi shooting film-film samurai, termasuk seri drama kesukaanku Mito Komon.

blok1DSC_0163

Ada juga ledok yang di daerahku Tulungagung sana dinamakan dengan “cikar goglag”. Kennes, Fira, dan Toshi main-main dengan cikar goglag ini.

Blok2DSC_0199

Ketemu juga dengan “Oshin” dan “Takeshi”. Tentu saja waktu tidak kita sia-siakan, minta foto bareng.

blok3IMG_0860

blok4IMG_0862

Setelah foto-foto, eeeee Kennes ingin belajar memanah…….

blok5IMG_0865

Di tengah-tengah memanah, ada cewek Jepang pakai kimono bagus sekali, kayaknya mau shooting. Langsung minta ijin untuk foto bareng he he he.

blok6IMG_0867

Di atas jembatan buatan. Memang bagus sekali untuk shooting. Seperti terasa ikut main film he he he.

blok7IMG_0871

Kita sempat juga nonton tetare tradisional semacam ketoprak atau ludruk di Indonesia. Sebelumnya ada sedikit permainan game tradisional Jepang. Ikut foto bareng dengan si pemain game.

bloka1IMG_0888

bloka3DSC_0228

Alat ini biasanya kalau di film-film samurai untuk menggotong bangsawan. Kadang juga menyewakan diri untuk nggotong orang …. ya semacam becak di Indonesialah. Fira dan Kennes juga ingin merasakannya.

blok9IMG_0878

Fira dan Kennes rebutan foto sama ninja.

bloka2IMG_0890

Sebelum keluar dari Kyoto Studio Park kita sempatkan juga foto bareng sebelum pulang. Ada Pak Kamiya, tapi si Toshikun ndak mau ikut foto.

blok8IMG_0873

Dan terakhir tujuan kita adalah museum di Kyoto.

bloka4DSC_0263

bloka5DSC_0267

bloka6DSC_0273

bloka7DSC_0272

bloka8DSC_0290

Setelah capek di sini kita pulang, jangan sampai pulangnya kesorean, karena pasti macet, maklum liburan golden week. Kelihatan ditulisan kan, kalau macet….

blokb1DSC_0304

Pulangnya, saya sempatkan memotret trowongan. Di Jepang ini banyak sekali jalan-jalan yang seperti menembus bukit-bukit, yah…….. banyak sekali trowongan dibangun demi tujuan kepraktisan dan biar jalan tidak terlalu berkelak kelok.

bloka9DSC_0306

blokb2DSC_0310

Setelah masuk keluar trowongan, akhirnya sampailah kita di Nagoya tercinta. Tsukareta kedo tanoshikatta. Terimakasih Kamiyasan, Toshikun, dan Reinachan…………

Bunga Ume

Tanggal 1 Maret 2009, kami sekeluarga pergi ke 名古屋農業センター.
img_0101sip

Hari-hari gini apalagi kalau bukan untuk menikmati indahnya bunga ume. Setelah daun-daun berguguran pada musim gugur, maka pohon-pohon pun tinggal ranting-ranting tanpa daun. Pohon itu terus terlelap pada musim dingin, dan mulai membuka matanya pada musim semi.
dsc_05922

Bunga ume tahan terhadap dinginnya musim fuyu dan menjadi bunga among tamu untuk menyambut kedatangan mekarnya bunga-bunga yang lain pada musim semi. Jadi, bunga ume merupakan bunga pembuka jalan untuk munculnya bunga-bunga yang lain.
dsc_0563

Kami dan beberapa keluarga Indonesia naik chikatetsu, penuh. Tiba di stasiun tujuan ada intruksi berjalan kaki saja, walaupun sebenarnya ada bis yang menuju ke lokasi.
dsc_0487

Jalan-jalan menuju Nagoya Nogyo Senta penuh, tidak hanya lautan manusia yang berjalan kaki, tapi juga mobil-mobil berjubel merambat menuju lokasi.Tidak lupa ada mobil penjual ishiyakiimo (石焼き芋) di sebelah kiri.
dsc_0489

Begitu sampai rasanya legaaaaaa. Ada hamparan pohon ume yang sedang bermekaran.
dsc_0504

Tentu kesempatan ini tidak aku sia-siakan, cari objek yang bagus sekalian latihan jeprat-jepret dengan Nikon D40 kesayangan.
img_0110

Hasilnya, coba kita intip dari tempat yang agak rendah……………すごいでしょううううう.
dsc_0509

Anak dan istri harus diikutkan dong….
dsc_05141

Beginilah suasana orang-orang Jepang menikmati indahnya bunga ume. Mmmmmmmmm………..
dsc_0537

Ada dua warna yang sangat kontras. Merah-Putih? Kayak bendera kita saja… Tepatnya merah muda dan putih. Coba kita lihat dari dekat. Sambil latihan jeprat-jepret nih critanya. Yang merah dulu.
dsc_0566

Ini yang putih…….
dsc_0531

Di tengah kebun ume ini terdapat kolam kecil, dengan sungainya yang berair bersih. Waduh, Si Kenes sama Ariel-kun main air lagi. Thathukan thok lagi. Malu achhhh.
img_0116

Capek main air, laparrrrrrrrrrrrrrrrr. Minta suap Bapak lagi. Nyamm nyammm nyamm.
img_0120

Setelah makan siang, tidak lupa kita sholat dzuhur berjamaah. Wah jadi kelihatan sedikit demonstratif nih. Habis mau sholat di mana lagi, yah di sinilah. Kata istri sampek ada orang Jepang ngesot dengan handycam sampai selesai.
img_0112

Yah…………………….. seharian menyelusuri kebun ume, hasilnya capek. Sebelum pulang makan es cream susu dulu. Laaa dingin-dingin makan es cream? Yah namanya juga anak kecil, kalau Si Kennes ngamuk, bisa-bisa aku nggendong sampek omah!!!!!!!! Peace, peace, peace, 100x.
dsc_0578

Iya, to. Pulangnya minta gendong……….
img_0143

Nagoya, 2 Maret 2009

Roni Cah Panjer

Ludruk Bintang Warna

Agustus 2008, Fira pulang ke Indonesia selama lebih dari satu bulan. Ketika itu Fira sempat belajar tari remo kepada pimpinan ludruk Bhintang Warna Sidoarjo, Cak Hasan Basori.

Ini gambar Fira setelah dirias.
dsc009833

Ini proses riasnya. Wajahnya dirias dengan kumis agar kelihatan gagah dan macho.
dsc00969

Mencoba pakaian
dsc00980

Latihan tari berkali-kali
dsc00990

Fira foto bareng dengan Cak Hasan dan istrinya
dsc00998

Cak Hasan menunjukkan tari remonya. Katanya tari ini sudah disederhanakan sedemikian rupa untuk anak-anak. Videonya lihat sini.

Fira beberapa kali tampil tari remo diantaranya tampil di acara Lomba Pidato Bahasa Indonesia di Nanzan University Nagoya pada Noverber 2009. Fira doki-doki shita, jadi tidak bisa tampil bagus. Videonya klik di sini.

Berikutnya ini penampilan Fira di Festival Indonesia Nagoya. Klik sini ya.

Homeless

“Haradasan, kenapa di tengah kemakmuran Jepang ini masih terdapat para homeless, orang yang tidak punya tempat tinggal?” tanyaku pada teman yang sedang asyik melahap saradanya.

Baru saja kita melewati bawah jalan layang dan bertemu dengan seorang homeless yang masih gagah dan menurutku tidak jelek. Tak urung dia meletakkan sumpitnya dan geleng-geleng kepala tanda dia harus berpikir untuk menjawab pertanyaanku. Selama empat tahun aku berada di Jepang aku merasa bahwa negeri ini makmur. Makmur dalam arti melimpah makanan dan melimpah pekerjaan. Kalau ada pemuda Jepang yang kelaparan itu sih kebangeten. Kalau ada pengangguran yang luntang-lantung itu sih keterlaluan.

“Bukankah banyak sekali baito di sekitar sini, kenapa mereka tidak baito saja? atau, kawin saja, toh dia masih gagah dan ganteng” aku menambahkan pertanyaanku.

Aku tahu, temanku itu tidak menjawab karena terlalu jauh berpikirnya. Mungkin dalam pikirannya melayang kepada krisis Jepang sebagai akibat dari krisis keuangan yang terjadi di Amerika.

“Bahkan di restoran tempat kita makan ini sedang membuka lowongan baito.” aku membuka pikirannya agar tidak terlalu jauh melayang.

“Iya, ya.” jawabnya singkat. “

Di toko-toko kita lewat tadi juga banyak lowongan” tambahnya lagi.

Saya tahu, masalahnya pasti tidak semudah seperti yang ada dalam bayanganku tadi. Pikiranku melayang lagi. Di negara ini, mahasiswa tingkat empat universitas sudah disibukkan dengan shukatsu, semacam training kerja. Tidak hanya satu tempat, bisa beberapa tempat. Kebanyakan dari mereka –mungkin malah mendekati 100%, sebelum lulus dapat hampir dipastikan bahwa mereka sudah mendapat kerja. Jadi, jarang ada pengangguran. Kalaupun ada paling itu sebuah kesengajaan. Kalaupun tidak mendapat pekerjaan kan bisa baito. Ah, mungkin itu hanya pikiranku saja yang mencari gampangnya. Tapi lihat, di negaraku dapat dihitung dengan jari mahasiswa yang begitu lulus langsung mendapat kerja. Mau shukatsu? Shukatsu di mana? Bahkan ketika mahasiswapun mereka dapat memilih baito sesuai yang diinginkan. Tapi di negaraku, jarang ada mahasiswa yang baito. Bukannya males atau tidak mau, tidak ada apa yang mau dibaitoi.

dsc01002blog Fira bersama Kennes, Dafa, dan Ian

“Ronisan, mereka itu pemalas” jawabnya membuyarkan lamunanku. “Belum lagi mereka yang mendapat bantuan dari pemerintah sebesar 150 ribu yen, tambah malas lagi”.

“150 ribu yen? Itu kurang lebih setara dengan 18 juta rupiah” aku terheran-heran.

“Iya, tapi mereka yang mendapat tunjangan dari pemerintah itu ada syaratnya. diantaranya kehilangan hak dalam pemilu.”

“Wah kalau mendapat tunjangan sejumlah itu, kehilangan hak dalam pemilupun aku mau…..” jawabku berkelakar.

“Di negara ini fakir miskin betul-betul dilindungi oleh negara” gumanku dalam hati. Aku berandai-andai jika negaraku sudah seperti Jepang ini betapa makmurnya bangsaku.

“Tapi, niat baik pemerintah sering disalahgunakan. Ada di antara mereka para homeless itu yang kaya-kaya, bahkan punya mobil” jelasnya. “Homeless ini hanya sebagai kedok saja, sebagai profesi. Agar mendapat tunjangan terus.”

Wah, ternyata kebijakan pemerintahpun di sini juga ada yang menyalahgunakan ha ha ha. Aku masih membayangkan, seandainya di Indonesia kebijakan dilaksanakan seperti di Jepang: fakir miskin, orang tua, dan anak-anak terlantar dilindungi oleh negara seperti diamanatkan oleh UU betapa makmurnya rakyat dari negara yang namanya Indonesia.

Nagoya, 31 Januari 2009

Roni

Sampah dan SKS

Beginilah salah satu cara Jepang mendidik mahasiswanya. Memungut sampahpun mendapatkan SKS.
Seperti kita ketahui Jepang adalah bangsa yang cukup memberikan perhatian pada permasalahan sampah. Sehingga kalau kita tengok kota-kota di Jepang keadaannya cukup bersih. Masyarakat ikut ambil bagian secara aktif dalam menggalakkan kebersihan ini. Di mulai dari sampah keluarga, sudah dipilah-pilah sedemikian rupa, mana sampah bakar (yang dapat dibakar), mana sampah yang tidak bisa dibakar, mana sampah besar (memang ukurannya besar seperti bed, almari, dll), mana sampah elektronik dsb. Membuangnya pun sudah ditentukan harinya. Bahkan untuk sampah besar dan elektronik dikenakan biaya untuk membuangnya.
Yang penting adalah bahwa mulai kecil anak-anak Jepang sudah dikenalkan (bahkan secara ketat) untuk memilah-milah sampah itu mulai di dalam keluarganya masing-masing. Bahkan untuk tujuan mendidik, baru-baru ini di salah satu televisi ditayangkan sebuah kelas perkuliahan mata kuliah ekonomi di salah satu universitas swasta di Nagoya yang mewajibkan mahasiswanya untuk memungut sampah di sekitar kampus. Dan “hebat”nya kegiatan ini dihargai dengan ganjaran SKS. Artinya, kegiatan memungut sampah itu termasuk dalam mata kuliah ekonomi. Di televisi itu ditayangkan setelah perkuliahan di kelas selama kurang lebih 20 menit, selebihnya waktu yang tersisa digunakan secara bersama-sama memunguti sampah yang tempatnya sudah ditentukan, tentunya di sekitar kampus.
Weleh-weleh…… gotong royong membersihkan sampah mendapat SKS. Bisa dibayangkan kalau ini terjadi di Indonesia. Mana mungkin?

Nagoya, 13 Mei 2008